Rotating SpongeBob

Minggu, 06 Maret 2016

JD : Oh Baby, I...(part 1)




Tittle                : Oh baby, I…
Genre              : love and romance
Rate                 : T(teen)
Cast                 : Justin Drew Bieber as himself
                         Nina Dobrev as herself
                         Etc

Justin menyusuri koridor kelas dengan langkah malas, tujuan dari langkahnya hanya satu yaitu ruang konseling. Ini sudah sekian kalinya Justin dipanggil atas kejahilannya yang dilaporkan oleh teman-teman yang merasa menjadi korban. Sebenarnya tidak hanya Justin yang melakukan kejahilan itu, ada Ryan dan Cody yang ikut serta. Hanya saja Justin tidak mau sahabatnya ikut terlibat dalam masalahnya dengan bagian konseling, karena semua kejahilan itu Justin yang memprakarsai.
Ia mengetuk pintu kayu berwarna cokelat itu, diatasnya ada papan kecil bertuliskan ruang konseling. Setelah mendapat perintah dari dalam, Justinpun masuk. ia berdiri depan meja Miss Julie yang duduk dibelakang meja.
“Kau tidak ingin menanyakan kenapa kau dipanggil?” tanya Miss Julie seraya memakai keca matanya. Justin mengalihkan pandangan kesegala arah. Untuk apa, untuk apa ia bertanya lagi, kasusnya sama seperti biasa.
“Tidak!” jawab Justin ketus.
“Kenapa kau selalu membuat ulah kepada teman-temanmu? Apa masalahnya?”
Justin menghela nafas. “Semua tidak ada masalahnya Miss, mereka yang selalu mempersalahkan segalanya.” Jawab Justin sedikit tegas. Kini berbalik Miss Julie yang menghela nafas.
“Ini semua karena orang tuamu yang berpisah? Benarkan? Kau membuat ulah karena mereka?”
Justin menatap tajam kearah beliau begitu menyangkutkan masalahnya dengan kedua orang tuanya yang telah berpisah. Benar memang, Justin menjadi pembuat ulah karena orang tuanya, ia ingin orang tuanya yang berpisah memperhatikannya saat ia berbuat ulah dan menegurnya. Namun semua seakan tak berarti bagi keduanya, Justin merasa hidup yang lahir ntah dari mana, tak satupun dari mereka berniat untuk memperhatikannya. Bahkan demi tidak mengganggu kenyamanan mereka keduanya membelikan Justin rumah mewah dan isinya. Bukan untuk tinggal bersama melainkan untuk Justin seorang bersama Bibi Ely, pembantunya. Setiap minggu kedua orang tuanya memberikannya uang untuk kebutuhannya. Meskipun hidup berkecukupan, namun bukan itu yang diinginkan Justin. ia ingin mereka memperhatikannya, seperti saat ia lahir dulu.
“Jangan bawa orang tuaku. Itu urusanku.” Jawab Justin malas yang kemudian pergi meninggalkan Miss Julie dan juga ruangan konseling itu.
Ryan dan Cody yang melihat Justin keluar dari ruang konseling langsung mengejarnya. Durasi Justin didalam tadi diluar dugaan mereka. Biasanya Justin betah berlama-lama didalam sana. Ntah untuk melawan setiap perkataan Miss Julie ataupun menggoda beliau yang sudah berkepala tiga. Namun untuk kali ini, tidak sampai 5 menit Justin sudah keluar.
“Justin, kau tidak apa?” tanya ryan yang mensejajarkan langkahnya dengan Justin. begitu juga cody yang berada disebelah kiri Justin.
“Aku tidak apa-apa, apa kalian pernah melihat ku terluka saat keluar dari ruangan itu?” tanya Justin balik.
“Lain kali biarkan kami juga ikut masuk Just, jangan hanya kau saja yang disalahkan.” Imbuh Cody yang diikuti anggukan pelan dari Ryan. Justin tersenyum mendengarnya.
“Kalian tenang saja dan kalian tidak perlu ikut campur dalam masalahku. Ayo kembali kekelas.” Ucap Justin, ia mempercepat langkahnya sehingga berjarak beberapa meter dari sahabatnya dibelakang.
***
Justin berjalan pelan di taman kota, ia sering kemari pada sore hati untuk menenangkan fikirannya. Malamnya ia bekerja disebuah cafe untuk mencari hiburan bagi dirinya. Berdiam diri dirumah hanya membuatnya bosan. Meskipun hanya tinggal bersama Bibi Ely, Justin bersyukur karena beliau sangat baik untuknya. Mengantikan peran orang tuanya yang ntah kemana.
Ia melihat ada sebuah kaleng yang tergeletak begitu saja, ada niat jahil untuk menendang  kaleng tersebut ketempat sambah yang berada jauh didepannya. Ia pun mengambil aba-aba dan menendang kaleng tersebut dengan kuat sehingga melambung.
“Yess..” serunya gembira tanpa melihat kaleng tadi masuk atau tidak.
Tiba-tiba saja.
“HEY‼!” teriak seorang pria tua bertubuh gempal sedang menuju kearahnya dengan menggenggam kaleng yang ditendangnya tadi. Tanpa rasa bersalah Justin menunggu pria itu.
“Ada apa paman?” tanya Justin enteng.
“Apa kau tidak melihat ada orang didepanmu?” tanya pria itu balik. Justin menaikkan alisnya sebelah.
“Kaleng ini mengenai kepalaku. Lihat ini.!” Bentak pria itu sambil menunjukkan bekas merah akibat kaleng yang ditendang Justin. Justin membulatkan matanya.
“Maafkan aku paman. Maafkan aku.” ucap Justin beberapa kali. Ia membungkukkan badannya setiap kali mengucapkan kata maaf.
Pria itu mendengus kesal dan meninggalkan Justin begitu saja. Justin menghela nafas lega karena tidak mendapat masalah besar.
“Kenapa hari ini aku begitu sial?” umpat Justin. ia mengedarkan pandangannya kesetiap sisi taman. Tidak ada yang menarik untuk dilakukan. Tiba-tiba matanya berhenti pada satu gadis yang sedang duduk dibangku taman dengan anggun. Knee Legnth Dress berwarna hijau daun yang ia kenakan dan senyum indah yang dari tadi terbentuk dibibirnya menambah kesan yang lebih anggun. Menurut Justin, itu sempurna sekali.
Namun satu yang ia pertanyakan dari tadi, gadis itu terus memandanginya. Setiap kali berkedip arah pandangannya tak juga berubah, tetap kepada Justin.
“Ada apa dengan gadis itu? Kenapa terus tersenyum dan memandangiku? Dia mengenalku?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun membalas senyuman gadis itu. Namun hal itu tidak membuat gadis itu memalingkan wajahnya atau sedikit saja mengubah arah pandangnya ketempat lain.
“Dia mulai membuatku takut.” Ucap Justin mengada. Ia berdecak kesal dan mendatangi gadis itu lalu duduk disampingnya.
Gadis itu menoleh kearah Justin dengan pandangannya yang masih tidak berubah, hanya senyumnya saja yang tidak lagi terukir manis diwajahnya. Beberapa saat kemudian pandangannya beralih lagi kedepan.
“Aku sudah disampingmu, kenapa kau terus tersenyum sambil melihatku?” tanya Justin yang dari tadi diliputi rasa penasaran. Gadis itu sedikit kaget dengan pertanyan Justin, namun ia tidak berniat menoleh kearah Justin.
“Aku tidak melihatmu, dan tidak tersenyum kearahmu.” Jawab gadis itu. Suaranya yang lembut langsung menggetarkan hati Justin. Justin tersenyum karena mendengar suara gadis itu lalu segera mengembalikan ekspresinya lagi sebelum gadis itu melihatnya tersenyum karena dirinya.
“Lalu kau tersenyum pada siapa?”
“Semua orang?”
Justin menautkan alisnya. Ia tidak ambil pusing, mungkin saja memang benar kalau gadis itu tidak tersenyum kepadanya.
“Kau sedang apa disini?”
“Duduk.” Jawab gadis itu singkat, Justin terkekeh mendengar jawabannya.
“Semua orang tau kalau kau sedang duduk. Selain itu?”
“Merasakan cerahnya sore ini, meskipun semua terlihat gelap.” ucapnya seraya tersenyum. Justin tidak mengerti dengan jawabannya. Dan lagi-lagi ia tidak memusingkan hal itu.
“Mari kita berkenalan.” Justin mengulurkan tangannya. Gadis itu juga mengulurkan tangannya, namun tidak searah dengan Justin sehingga mereka tidak berjabatan tangan.
“Bagaimana mungkin gadis ini tidak melihat tanganku?” batin Justin yang bingung.
“Kau tidak ingin menjabat tanganku? Maaf jika uluran tanganku ntah kearah mana. Aku tidak dapat memastikan dengan pasti kau berada dimana.” Ucap gadis itu. Justin mengangguk paham. Ia mengerti keadaan gadis yang dari tadi memperhatikannya dengan senyuman. Ia buta.
Justin menjabat tangan gadis itu.
“Aku Nina,”
“Aku Just… oh.. Juju.” Ucap Justin memperkenalkan namanya dengan nama Juju. Nina melepaskan jabatan mereka.
“Aku senang kau mau berkenalan denganku. Kau pasti heran kenapa aku memandangimu dari tadi. Sebenarnya aku tidak memandangimu, aku juga bingung kearah mana aku memandang. Aku tidak dapat melihat sejak lahir.”
“…aku sudah tau ini. Kenapa gadis selembut dan semanis dan sesempurna ini dapat memiliki kekurangan?” batin Justin yang memandangi Nina.
“Aku harap kau mau terus berteman denganku.” Ucap Nina dengan senyumnya tak pudar.
“Pastinya, aku akan kemari setiap sore untuk bertemu denganmu.”
Perkenalan hari ini, merupakan awal bagi Justin dan juga Nina. Justin tidak menyesal dan berkenalan dengan Nina yang ternyata memiliki kekurangan. Ia ingin menjadi cahaya untuk kegelapan yang dirasakan Nina setiap harinya.
Terhitung dari hari itu, Justin dan Nina sering bertemu ditaman. Saling bersenda gurau ataupun menceritakan tentang pengalaman mereka. Setiap minggu Justin mengunjungi panti sosial yang menjadi tempat tinggal Nina. Nina tinggal dipanti sosial dikarenakan saat ia lahir ia dibuang oleh kedua orang tuanya, itu yang diceritakan pemilik panti saat pertama kali menemukan Nina di depan pagar panti sosial.
Terkadang Justin juga meminta izin kepada pemilik panti untuk mengajak Nina pergi bersamanya kecafe. Hal yang paling disukai Nina adalah kehadiran Justin setiap hari, ia suka mendengar suara Justin, terlebih saat dia bernyanyi dengan gitarnya. Dan hal yang paling disukai Justin dari gadis itu adalah senyumnya yang manis dan ketulusannya. Semenjak Tuhan mempertemukan Justin dengan Nina, ia merasaka hidupnya penuh dengan suara, tidak hanya suara dari gitarnya atau celotehan teman-teman disekolahnya. Suara itu adalah hal yang paling dirindukan Justin setiap harinya dan semua itu berasal dari Nina.

Sore itu, seperti biasa Justin datang ketaman untuk bertemu dengan gadis yang selalu ia rindukan meskipun telah sering bertemu. Ia tidak pernah merasa bosan sama sekali, bahkan ia selalu berharap dapat selalu bersama Nina.
Justin melihat Nina yang telah duduk manis dibangku taman. Ia menghampiri Nina dan duduk disampingnya.
“Kau sudah datang?” tanya Nina. Justin tersenyum.
“Hari ini aku membawa gitar. Aku sangat menyukai lagu ini. Kau mau dengar?” tanya Justin balik tanpa menjawab pertanyaan Nina. Sore ini ia membawa gitar, Ia ingin menyanyikan sebuah lagu kesukaannya. Dikhususkan untuk Nina.
“Benarkah? Baiklah akan kudengar.” Jawab Nina, ia sedikit menoleh kearah Justin. namuan pandangan matanya ntah kearah mana.
Justin membenarkan posisi gitarnya agar nyaman. “Dengarkan ini.”
Suara petikan dari gitar tersebut pun terdengar. Justin memulai nyanyiannya sambil menatap Nina yang tersenyum.
“Oh baby, I think that I’m falling in love with you… I’m lifting my entire heart to you, who are so important… You are the one… I want you to stay, I’m asking you to stay like this forever.”
Nina terdiam mendengar Justin bernyanyi. Ia meperhatikan lirik lagu tersebut.
“You make me feel good… inside, every time you turn towards me…oh.. when you give me a smile… i want to tell you that you’re so cute, what should I do?... but I’m probably not good enough for you… I want to give you my heart, but I don’t know if you’d accept it”
Perlahan senyum Nina mengembang, matanya berkaca-kaca ia benar-benar terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan oleh Justin.
“Oh baby, I think that I’m falling in love with you… I’m lifting my entire heart to you, who are so important… You are the one… I want you to stay, I’m asking you to stay like this forever.” (Mike D. Angelo-Oh Baby, I <english version>)
Justin menghentikan lagunya, tampak dari raut wajah Nina yag bingung kenapa Justin menghentikan lagunya.
“Kenapa berhenti?” tanya Nina penasaran. Justin meletakkan gitarnya direrumputan taman dan menyenderkannya kebangku taman.
“Aku menyengajakannya, suatu saat nanti kau akan mendengarkannya hingga selesai. Aku yang akan menyanyikannya untukmu.” Jawab Justin. Nina mengangguk senang.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Nina mengalihkan pembicaraan.
“Seperti biasa, tidak begitu menarik.”
“Lalu apa yang membuatmu tertarik?” tanya Nina tiba-tiba. Justin sedikit mendekatkan wajahnya ketelinga Nina.
“Dirimu.” Jawab Justin dengan berbisik. Nina sedikit mendorong tubuhnya kebelakang karena kaget Justin berbisik padanya. Gadis itu tersenyum dan menunjukkan eye smile dari matanya yang indah.
“Juju, kenapa kau suka sekali membuatku terkejut?” omel Nina seraya tersenyum. Justin ikut tersenyum melihat Nina yang sepertinya salah tingkah.
“Benarkah? Apa kau terkejut? Aku tidak melihatnya, boleh kulakukan lagi?” goda Justin. ia sangat senang melihat Nina ketika pipinya bersemu. Ia terlihat lebih manis.
“Diamlah..” pekik Nina yang merasa malu. Ia yakin kalau ekspresinya saat ini sangatlah konyol. Ia sendiri tertawa dalam hatinya.
“Juju.. kenapa kau mau berteman denganku? Aku buta, aku bahkan tidak dapat melihat bagaimana wajahku. Apakah aku cantik atau sebaliknya. Aku merasa kalau semua yang kulakukan it…”
“sssttt…”
Justin meletakkan telunjuknya didepan bibir Nina.
“Kenapa aku harus mempunyai alasan untuk berteman denganmu? Kau alasanku berada disini. Lalu apa yang harus dipermasalahkan? Kau cantik Nina, sangat… cantik. Jadi berhentilah merutuki dirimu sendiri.” Jawab Justin. Nina menghela nafas dan tersenyum.
Benarkah? Benarkah semua yang dikatakan Justin. Nina sangat bersyukur dapat mengenal Justin.
“Ayo pulang, biar ku antar.” Ajak Justin seraya menggenggam tangan kanan Nina, sementara tangan kiri Nina memegang tongkat dan tangan kanan Justin memegang gitar.
***
Justin tersenyum melihat sebuah kalung dengan mainan berbentuk tetesan air, ukurannya hanya seruas jari manusia dan warna seperti air, yaitu bening. Sepulang sekolah, ia singgah ketoko perhiasan untuk membelikan Nina sebuah kalung. Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Apa yang ia rasakan saat pertama kali bertemu, apa yang ia rasakan setiap harinya bersama gadis itu. Ia ingin mengungkapkan semuanya.
“Hey gadis buta‼ hati-hati, kau mau mati konyol? Jangan nyebrang sembarangan. Atau sebaiknya tidak udah berjalan-jalan. Menyusahkan saja.”
Terdengar bentakan dari arah jalan besar. Justin langsung berlari kesana setelah mengetahui siapa yang dibentak oleh seorang pria didalam mobil berwana biru tersebut. suara klakson dari tadi tidak berhenti ia bunyikan agar gadis itu segera minggir. Terlihat beberapa orang hanya melihat kejadian itu tanpa menolongnya.
“Jangan pernah membentaknya.” Bentak Justin yang datang dari arah kanan. Ia berlari ketengah jalan dan merangkul Nina yang tampak ketakutan. Justin tau Nina tidak pernah salah saat memilih jalan. Jadi kenapa pria itu harus memarahinya.
Justin melihat kearah lampu lalu lintas. Terlihat jelas warna merah terang masih menyala. Ia berdecak kesal.
“Hei paman. Apa kau tidak lihat? Lampunya saja masih berwarna merah, dan hijau untuk pejalan kaki. Sekarang siapa yang buta?” omel Justin dengan nada lantang. Pria itu geram dan melihat kesekeliling kalau beberapa mobil memang berhenti.
Merasa tidak mau kalah, pria itu terus mengklason mobilnya. Justin geram dengan tidakan pria itu masih bertingkah anak-anak. Ia hendak memberi pria itu peringatan namun dicegah oleh Nina yang sepertinya mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Justin.
“Sudah, tenangkan hatimu. Ayo kita pergi. Maafkan kami paman.” Ucap Nina seraya membungkukkan badannya lalu menegakkannya kembali. Justin memegang bahu Nina dan menuntunnya ke sebrang.
Tujuan mereka saat ini sama. Sama-sama ketaman kota. Justin masih kesal dengan pria tadi, sepanjang perjalanan ia terus saja mengomel tidak jelas. Sedangkan Nina tersenyum geli mendengar Justin mengomel.
Merekapun duduk dibangku taman. Justin mengeluarkan gitarnya dari tas gitar yang ia bawa dari tadi.
“Nina, kau mau tau sesuatu? Lihatlah aku membuat sebuah stiker” ucap Justin, ia mengeluarkan sebuah stiker hati berwarna merah dengan tulisan two of us.
“Bagaimana stikernya?” tanya Nina penasaran. Ia meraba stiker yang berada ditelapak tangan Justin. “Berbentuk hati?” tanya Nina lagi.
“Hmm.. ada tulisan two of us, stiker ini melambangkan kita berdua. Aku akan menempelkannya digitar kesayanganku. Dan kau harus membawanya satu.”  Jawab Justin dengan semangat. Nina tersenyum senang.
Namun tiba-tiba raut wajah Nina berubah. Senyumnya tidak lagi mengembang.
“Kenapa? Kau tidak senang?” tanya Justin. Nina menggeleng.
“Aku senang… sangat senang.. tapi… Aku harus pergi, aku harus keluar kota. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku.” Ucap Nina pelan. Justin tersenyum senang, namun kenapa Nina tidak sesenang dirinya?.
“kau harusnya senang.”
Nina menggeleng. “aku pergi untuk waktu yang lama, mungkin lebih dari 6 bulan. Aku takut nanti saat aku kembali kau tidak lagi disini, kau tamat sekolah dan melanjutkan perguruan tinggi ketempat yang jauh.”
Kini Justin yang terdiam. Harus selama itukah? Namun sesaat kemudian ia tersenyum. Ia menautkan jari-jarinya pada jari Nina.
“Aku akan menunggu, jangan fikirkan apapun selain operasi itu. Semuanya akan tetap seperti biasanya.” Ucap Justin meyakinkan Nina. Gadis itu melepas genggamannya. Perlahan tangannya mengarah kewajah Justin. jari-jarinya kini bersentuhan dengan wajah Justin, dengan hati-hati ia meraba wajah Justin. senti tiap senti tidak ia lewatkan.
“Suatu saat aku akan mengukir wajahmu ju. Aku akan tau seperti apa kau saat aku melihat nanti.”
Justin tersenyum. Ia teringat akan kalung yang ia beli tadi. Iapun mengeluarkannya dari saku celananya.
“Menghadaplah kearah kiri.”  Pinta Justin. Nina mengangguk lalu menuruti pria itu. Justin menyibakkan rambut cokelat Nina kearah kanan. Ia melepaskan kaitan kalung tersebut dan memakaikannya keleher Nina.
Nina yang kaget langsung meraba lehernya. Ia merasa ada sesuatu yang melingkar dilehernya.
“Kalung ini akan membawamu kepadaku. Percayalah.” Ucap Justin. Nina mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Justin, meskipun sebenarnya ia tidak dapat melihat apapun. Ia mengangguk, bulir airmata mulai membasahi pipinya setetes demi setetes. Justin langsung memeluknya dan membuat tangis gadis itu pecah.

“…aku tidak akan mengatakannya sekarang, aku ingin melihat kesungguhanmu untuk mencariku setelah kau dapat melihat…”~Justin.

Jumat, 09 Oktober 2015

tips

TIPS MENGHILANGKAN GALAU


السلم عليكم ورحمة الله وبركته
Apa kabar semuanya, sekarang ini gue mau aktif di blog. Jadi blog gue gak terbengkalai dengan begitu saja. Udah kayak sepeda rusak yang ngangkrak begitu saja. J
Hari ini gue mau ngasih tips tentang menglihangkan rasa galau versi gue sendiri. Insyaallah ampuh, Aamiin J
1.      Anggap galau itu adalah sebuah kerupuk
Lo tau kerupuk kan? Kerupuk itu rapuh men... yaa walaupun gak membuang sebagian sifat asli dari kerupuk yaitu keras –“. Nah, disini bukan gue mau bahas kerupuk. Gue mau bilang kalau lo lagi galau, anggap aja itu sebuah kerupuk yang enak banget kalau lo makan. Terlebih pake nasi. Nah nasi disini itu bisa jadi sebuah kegiatan yang bermanfaat. Bisa jadi saat lo lagi galau tiba-tiba lo kepikiran buat bersihin rumah, di iringi lagu kemerdekaan biar semangat. Bisa juga saat lo galau, lo garain emak lo yang lagi capek. :D bukan...bukan... bukan gitu. Maksud gue lo serua-seruan bareng emak atau abah lo. Ya mudah-mudahan aja galau lo itu ilang dengan perlahan. Atau setidaknya si galau itu sadar diri biar gak terus-terusan menjajah dirilo. Dan kalau lo suka sesuatu yang ekstrim, lo bisa salto dari atas kasur lo menuju lantai. :D hahahah XD

2.      Dengerin lagu ngebit
Kalau yang ini emang bener-bener gue banget. Gue biasanya kalau lagi galau itu ngidupin lagu ngebit lalu jingkrak-jingkrakkan gak jelas. Itu gue. Nah buat yang sifatnya gak overdosis kayak gue, lo bisa cukup dengerin lagu ngebit bertempo 140 km/jam. Atau yang gak suka lagu ngebit juga bisa dengerin lagu islami. Hindari sebisa mungkin kontak langsung dengan lagu melo yang mengisahkan tentang kegalauanmu. Inget men, lagu galau itu hanya menghantu lo doank.. percaya deh..*muka melas*

3.      Curhat
Ini pasti sering di lakukan sama para remaja jama sekarang. Galau dikit curhat, galau dikit curhat. Mana curhatnya sama orang yang salah. Kalau mau curhat itu gak ada salahnya. Tapi usahakan curhatnya sama orang yang udah punya banyak pengalaman. Yang udah ngerasain asam manisnya kehidupan. Sama nenek lo keg, atok lo gitu.. :D kagak ding, gue bercanda. Kalau lo mau curhat, utamakan curhatnya ke الله gitu. Inget men, sedih senang sertakan  الله, jangan pas susah lo inget, pas seneng lo lupa. Ya kaleee –“, setelah itu kalau lo merasa gak gengsi, curhat ke orang tua. Mau gimanapun solusinya itu adalah yang terbaik.
Saran gue, kalaupun lo mau curhat sama sebaya lo. Lo mesti tau, gimana orang itu. Jangan kemaruk, jumpa sama yang ini curhat, yang itu curhat. Lo kira lagi salaman.

4.      Menulis
Walaupun umur lo gak sepanjang jaman, yang penting tulisan lo bermanfaat bagi generasi lo. Lo galau? Nulis aja men... tapi bukan nulis curhatan lo yang alaynya melebihi batas normal. Lo tulis tentang apa yang lo rasain tapi dengan bahasa yang indah, yang bisa membuat manfaat bagi yang baca biar gak ketularan galau kayak lo. Lo tau kan kalau galau itu rasanya gak enak, jadi jangan biarkan yang lain ngikutin jejak lo.

5.      Ingat kepada-Nya
Ini yang paling penting. Sama kayak curhat, apapun yang terjadi lo mesti tetep inget sama الله, bersyukur saat lo mendapat nikmat, bersabar saat lo kesusahan. Tetap berdoa dan bersabar. Galau itu gak bakal lama kalau lo gak menikmatinya.

Oke, segitu aja tipsnya semoga bermanfaat. Galau itu gak enak meenn... seriusan, jadi jangan mau lo galau. Lo mesti kayak gue yang anti galau. Error aja sebisa lo. Selama lo bisa seneng kenapa mesti galau. Kegalauan terbesar itu ada didiri lo sendiri.

Sekian... salam super galau :D
Dan salam Beliebers
Nantikan postingan saya yang lebih eror lainnya


والسم عليكم ورحمة الله وبركته



 

Kamis, 08 Oktober 2015

contoh feature

SEMANGAT TINGGI, ATLET MUDA BADMINTON
Rofikotul Husna

Ketika semua orang sibuk dengan aktivitasnya, di saat itu lahir seorang bayi laki-laki, tepat 15 tahun yang lalu. Adriyansyah Hamdani, begitu nama lengkap remaja itu dan akrab dipanggil Dani, ia lahir di Desa Karang Tengah, Kec. Serba Jadi, Kab. Serdang bedagai  tanggal 21 desember 2000. Hadir ke dunia sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara. Buah hati pasangan M.Hidayat dan Sayani ini berhasil membuat bangga orang tuanya disetiap pertandingannya.

Di saat penulis mewawancarai Dani di Gedung PBSI yang berada Jl. Gedung PBSI Medan State, Kota Medan, Senin 28 september 2015, peserta Badminton ini sangat bersemangat menceritakan tentang hidupnya. Sejak kecil ia sangat terobsesi ingin menjadi seorang pemain Badminton, bahkan sebelum mengikuti latihan serius ia selalu mengajak orang tua dan kakaknya untuk bermain Badminton di halaman rumahnya yang tidak terlalu lebar. Ia mengungkapkan kalau atlet favoritnya adalah Alan Budikusuma, sang legenda Badminton Indonesia. Ia ingin sekali mengikuti jejaknya. “dulu kalau main Badminton di halaman rumah, karena belum ikut latihan serius. Inginnya seperti Om Alan Budikusuma,” ujarnya dengan polos.

Saat kelas tiga SD dani dan keluarganya pindah rumah ke serdang bedagai, tempat tinggalnya sekarang. Disinilah awal semua hobinya tersalurkan. Sudiono, Abang dari ibunya, tepatnya uwaknya merupakan pemain badminton di kampungnya, beliau juga memiliki lapangan badminton dibelakang rumahnya. Mengetahui hal itu, Dani meminta kepada ibunya untuk ikut latihan setiap malam di tepat uwaknya. Namun, ibunya tidak setuju karena malam latihan itu adalah malam sekolah. Tak habis akal, Dani segera mengatakan kepada uwaknya kalau ia tidak dapat latihan setiap malam sekolah. Dan akhirnya uwaknya mengajaknya untuk latihan di Dolok Masihul bersama anak-anaknya setiap jam 3 sore. Dengan tekun ia mejalani latihannya, meskipun begitu tugas utamanya sebagai seorang pelajar tetaplah dijalani. Ia mampu membagi waktunya dengan baik.

Keseriusannya untuk mewujudkan cita-citanya memang tidaklah mudah, beberapa kali di setiap pertandingan ia selalu kalah. “tidak setiap pertandingan dani menang kak, beberapa kali dani kalah, kadang lawannya tidak seimbang, terkadang karena faktor dari dani sendiri. Tapi dani tetap semangat kak, karena dani juga menang kalau bertanding.” Jelasnya dengan senyum yang mengembang.
Melanjutkan pendidikannya, Dani masuk ke MTs.N Dolok Masihul. Disini ia juga di amanahkan mewakili sekolahnya untuk ikut Porseni sebagai perwakilan dari sekolahnya untuk bidang Badminton di ganda pemula putra bersama Faisal, teman latihannya. Dimulai dari antar sekolah, antar kecamatan, antar kabupaten, hingga akhirnya antar provinsi. Tak berhenti sampai disitu, mereka juga berhasil sampai ketingkat nasional.

Selain itu, dani juga sering ikut pertandingan besar antara lain Sirkuit Nasional, Biskuat Cup, Kejurda, Kejurprov, dan lain-lain. Beberapa piala juga bertengger di meja hias yang berada dirumahnya.


Dan baru-baru saja ia berhasil meraih juara 3 bersama pasangan gandanya, di Kejuaran provinsi untuk ganda pemula putra yang di adakan dari tangga 28 sept-02 okt 2015 di gedung PBSI Medan.

Rabu, 06 Mei 2015

cerpen

Favorite Girl

Rofikotul Husna 

Namaku Malik. Aku menyukai seorang gadis, seorang gadis yang ku anggap unik. Ia pekerja keras, sangat percaya diri dan mudah bergaul. Awalnya aku tak begitu memperhatikannya, aku terlalu sibuk melihat gadis-gadis yang berparas cantik. Tapi setelah berjalan 2 bulan aku berada dalam satu organisasi yang sama, perlahan rasa itu muncul. Aku mulai suka memperhatikannya, memperhatikan sifatnya yang cukup tomboy meskipun ia berhijab, memperhatikan tingkahnya yang konyol dengan beberapa temannya, memperhatikan bagaimana ia tertawa bahagia, menangis, bahkan raut wajah lucunya ketika bingung. Terlebih ketika ia mencoba akrab denganku. Aku rasa aku memang menyukainya.
Hari ini aku melihatnya berlari dari depan gerbang menuju aula. Sebenarnya aku sedang tidak menunggunya, hanya saja ntah mengapa aku ingin melihat keluar dari lantai dua ini. Dan binggo, aku melihat kedatangannya dari arah gerbang. Beberapa kali ia melihat kearah arloji berwarna ungu yang melingkar di penggelangan tangan kanannya. Ia telat 30 menit dari waktu yang ditentukan, aku yakin ia akan mendapat masalah dari ketua panitia.
 Kini ia mulai menaiki tangga dengan cepat, hingga akhirnya sampai di depan aula. Ia membuka pintu aula itu pelan, dan...
“Laila! Kamu telat 30 menit!” bentak Roy selaku ketua panitia untuk acara yang akan dilaksanakan besok. Laila terbelalak kaget, ia tersenyum kecil dan menghampiri Roy.
“iya aku telat, aku minta maaf, tapi aku udah permisi sama kak Fara kalau aku bakalan telat,” ungkap Laila dengan nafas masih belum beraturan. Aku memandangi mereka dari dekat jendela, ia menganggap kalau dirinya benar sehingga ia tetap bersikukuh kalau ia tidak salah.
“disini yang ketua panitia siapa? Aku atau kak Fara? Kamu sekarang dihukum keliling lapangan satu kali,”
“apaaaa!!!!” pekik Laila kaget, ia tetap tidak terima kalau ia bersalah. Ia menghembus jilbab ke atas, ia sedikit memiringkan kepalnya kekiri, menaikkan lengan bajunya dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia menghentakkan kaki kanannya beberapa kali.
“heh,” ucap Laila kasar seraya mendorong bahu Roy dengan telunjuknya. “kamu fikir kamu siapa? Kamu hanya ketua panitia, ingat gak lebih. Toh ketua yang sebenarnya untuk acara ini adalah kak Fara, lantas kenapa kalau aku permisi sama kak Fara?” bentak Laila. Dapat ku akui keberanian ia, namun ia bersalah, dan tetap harus dihukum.
“kamu berani dorong aku?” tanya Roy yang kaget dengan tingkah Laila. Laila melangkah kedepan, dan Roy harus mundur kebelakang.
“kamu fikir aku takut sama kamu? Enggak!!! Kamu itu udah semena-mena, sesuka hati menghukum orang.” Laila semakin mendekat hingga badan Roy menyentuh dinding.
“dan kamu, itu gak pantes jadi ketua panitia, karena apa? Kamu hanya menyuruh bukan bekerja sama,” bentak Laila.
“hukuman kamu jadi lima kali keliling lapangan, kerjakan atau kamu tidak ikut acara ulang tahun organisasi kita besok,” ucap Roy yang berhasil membuat Laila teriam, ia mundur beberapa langkah, dan Roy pergi begitu saja.
Semua orang yang berada di aula melihatnya dengan iba, termasuk aku yang juga tidak tega melihatnya.
“kenapa pada ngeliatin, mau ikutan keliling lapangan juga?” bentak Laila yang kemudian pergi, aku melihatnya berlari menuruni tangga dan menuju lapangan. Ia berdiri di pinggir lapangan itu. Laila, tingkahmu itu yang membuatku semakin penasaran.
“aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!” teriaknya setelah menarik nafas dalam-dalam, dan ia mulai berlari mengelilingi lapangan. Aku hanya dapat tersenyum melihatnya.
Akupun mengambil botol minumku, lalu permisi pada Roy untuk keluar sebentar. Mana mungkin tega aku melihat orang yang ku suka harus seperti itu. Dan hanya Laila yang sanggup menerima tantangan itu tanpa menolak lagi. Kamu tau Laila, mungkin aku tak salah jika aku menyukaimu. Maybe...
Aku berdiri di pinggir lapangan, bersyukur karena cuaca sedang bersahabat, semilir angin mungkin dapat menyejukkan hati yang sedang emosi. Ia tak melihatku sama sekali, mungkin karena terlalu fokus untuk meluapkan emosinya.
Sudah lima kali ia keliling lapangan, ia berjalan ketengah lapangan. Meluruskan kakinya lalu berbaring menatap matahari yang tepat di atasnya. Aku menghampirinya, dan berdiri didepannya untuk menutupi silau matahari. Ia menatapku.
“oh, MaLik, kamu ngapain kemari? Ntar kamu dihukum juga sama si songong Roy itu” tanya Laila yang menganti posisinya dengan duduk. Atu tersenyum dan ikut duduk disampingnya. Ku berikan air minum yang tadi ku bawa. Ia menerimanya setelah menyibakkan poninya keatas.
“capek?” tanyaku yang ternyata mengundang gelak tawanya.
“hahahaahhahahah, kamu nanya capek? Yaiyalah, mana ada orang yang keliling lapangan 5 kali bilangnya gak capek, ngawur kamu,” ucapnya terkekeh, ini adalah hal yang paling aku sukai, memandanginya saat ia tertawa.
Mungkin selama ini aku salah, hanya melihat perempuan dari tampangnya saja, hanya dari kecantikan. Karena pada waktu itu aku telah menemukan sebuah kebahagiaan jika melihat atau dapat dekat dengan perempuan yang cantik. Tapi sekarang, aku nyaman, nyaman berada disamping perempuan sederhana yang ramah dan bersahabat. Yang selalu membuat segalanya menjadi ramai karena suaranya.
“hey, ngelamun ya?” tanya Laila yang menyenggol lenganku, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“hmm, kamu kok mau disuruh lari 5 kali keliling lapangan? Padahalkan kamu tadi hanya disuruh sekali untuk keliling, kenapa gak minta hukuman yang pertama aja?” tanyaku yang mengalihkan pertanyaan, aku tidak ingin ia curiga karena ku perhatikan tadi.
“maLik, aku ini bukan seorang pengecut. Hukumanku itu 5 kali karena udah mendorong ia, mengancamnya, bahkan membentaknya. Dan yang paling utama aku telat, jadi kenapa aku harus menawar lagi?” jawabnya. Aku mengangguk paham dan berdiri. Ku ulurkan tanganku.
“ayo, kita harus kembali. Karena kita masih ada tugas” ajakku, ia menggenggam tanganku dan berdiri. Kamipun kembali ke aula.
***
Aku dan Laila duduk di kursi yang menghadap panggung, melihat bagaimana penampilan hiburan untuk besok, ia menaikkan kaki kanannya keatas lututnya. Dan menyenderkan tubuhnya di kursi tersebut.
Tiba-tiba saja kak Fara masuk dengan wajah kurang bersahabat. Ia meghampiri Roy yang berada didepan kami.
“Roy, tadi kakak lihat Laila keliling lapangan, dan ada laporan karena ia terlambat, benar?” tanya kak Fara yang berhasil membuat mata Laila membulat. Lagi-lagi ia menghembus jilbabnya ke atas.
“oh god, apalagi? Apa aku akan disalahkan lagi?” gumamnya pelan.
“iya, kak. Ia terlambat dan gak izin sama Roy jadi Roy suruh aja ia keliling lapangan, impaskan kak?” tanya Roy yang membuat Laila semakin geram, Laila mengepalkan tangannya.
“kenapa kamu berbuat sesuka hati?” tanya kak Fara yang berhasil membungkam mulut Roy, ku fikir kak Fara akan membela Laila. Karena dari awal Laila sudah permisi akan terlambat. Aku juga melihat kearah Laila yang sedang bingung dengan kak Fara.
“jawab kakak!” bentak kak Fara yang tidak mendapat jawaban dari Roy. Roy sedikit panik, matanya mulai melirik ntah kemana.
“maaf kak, Roy gak ngerti maksud kakak apa”
“gak ngerti? Seharusnya kamu tanya dulu sama kakak, ia sudah permisi belum, kakak yakin ia pasti bilang kalau kakak memberikan izin ia telat. Dan kamu, kenapa kamu sesuka hati menghukumnya? Kamu fikir lari keliling lapangan lima kali itu tidak capek?” jelas kak Fara dengan nada tegas. Roy hanya bisa tertunduk. Dan kak Fara pun pergi.
Aku melihat Laila tersenyum puas.
“hey ketua songong,” panggil Laila kasar dari tempat duduknya. Roy berbaLik menghadapnya.
“sudah ku bilang kan? Makanya jangan jadi ketua yang hanya pamer sama jabatan, jadi semena-mena kan?” ejek Laila yang tampak bahagia. Sesaat kemuian ia tertawa.
Roy berjalan mendekatinya. “aku minta maaf,” ucap Roy pelan. Laila hanya tersenyum sinis, ia mengepalkan tangannya. Oh God, aku rasa ia akan menghajar Roy. Dan benar saja, ia mulai melayangkan pukulan ke pipi kanan Roy. Roy hanya bisa terpejam pasrah.
Tapi....
Apa yang terjadi? Kepalan tangan Laila berhenti didekat pipi Roy, hanya berjarak sekitar 3 cm. Sesaat kemuian di menampar pipi Roy pelan.
“hahahahahhahhah, takut ya? Ah cemen banget. Tenang aja, udah aku maafin kok, hahaha,” ucapnya yang membuat kami tercengang, ia tertawa puas. Laila memang gadis yang penuh dengan kejutan.
***
Tiba di hari yang di tunggu, yaitu hari ulang tahun organisasi kami. Setiap panitia sibuk menyiapkan semuanya, mulai dari mengecek panggung, dekorasi yang dari semalam kami kerjakan dan juga menghitung jumlah makanan yang akan di bagikan.
Dan aku, tugasku hanya mengiringi Laila menyanyi dengan gitar. Aku sangat senang mendapat bagian ini. Aku melatih kembali kunci-kunci gitar yang ku mainkan, agar nanti pada saat acara berjalan dengan lancar. Sementara Laila masih didandani oleh kak elma di ruangan.
15 menit menunggu tiba-tiba saja aku terhenyak. Aku berjalan menghampiri Laila yang masih sibuk membenarkan dressnya. Aku memperhatikannya, sangat memperhatikannya. Sesaat kemuian ia kembali menatapku.
“hey, kenapa ngeliatin? Mau mengejekku ya?” tanya Laila seraya tertawa. Aku tersadar dan merasa malu karena telah memperhatikannya secara terang-terangnya. Aku rasa pipiku memerah.
“dihh, ngelamun lagi, kenapa sih? Dressnya aneh ya?”
Aku tersenyum kearahnya, “tidak, cantik kok, tumben jadi wanita seutuhnya?” ledekku diiringin ketawa ringan, ia membulatkan matanya.
“sudah, ayo sebentar lagi acara dimulai.” Ajakku. Kamipun pergi kebelakang panggung untuk mempersiapkan semuanya.
Kurang lebih satu jam kemuian, acara dimulai. Sebagai pembuka kami mepersembahkan sebuah lagu ulang tahun. Hatiku sangat senang dapat mengiringinya bernyanyi. Memperhatikannya secara iam-iam saat ia melantunkan lagu tersebut. semoga nanti menjadi kebahagiaan untukku.
***
Acara berlangsung meriah hingga sore, saat acara selesai kami membereskan semua peralatan yang kami gunakan. aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Apakah ini waktu yang tepat?
Aku melihatnya keluar ruangan ia telah mengganti pakaiannya, aku tau ia sangat tidak betah memakai dress seperti tadi. Namun itu permulaan yang bagus untuk cewek tomboy seperti ia.
Aku mengambil gitar dan menghampirinya. “lagi sibuk? Ada waktu?” tanya ku, ia memutarkan kedua bola matanya.
“mau ngajakin jalan ya?” tanyanya bergurau, kami tertawa bersama.
“jawab aja dulu,”
“hmm, gak ada, kenapa?” tanyanya yang penasaran, aku langsung menarik tangannya.
“ikut aja.” Ajakku. Kami keluar dari aula dan menuju lapangan. Detak jantungku semkin cepat bahkan tak beraturan. Biasanya ketika aku ingin menyatakan perasaanku, aku tidak merasakan apa-apa bahkan biasa saja. Tapi entah mengapa kali ini sangat... sangat berbeda.
Kami duduk ditengah lapangan. ia tidak banyak protes.
“aku punya lagu untukmu, ini lagu dari penyanyi favorit kamu.” Kataku yang mebuatnya bingung. Aku mulai memetik gitarku.
“oouohhh, oouohh, oooouuaahhh ahh, oouuaaah,”
Laila tersenyum mendengar awalan ku bernyanyi. Ia sudah menebak algu apa yang akan kunyanyikan.
I always knew you were the best, the coolest girl I know
So prettier than all the rest, the star of my show
So many times I wished, You’d be the one for me
But never knew you’d get Like this, girl what you do to me
You’re who i’m thinkin of, girl you ain’t my runner up
And no matter what you’re always number one
My prize posession one and only, Adore you girl I want you
the one I can’t live without, That’s you, that’s you
You’re my special little lady, the one that makes me crazy
Of all the girls i’ve ever known, it’s you...it’s you
My favorite, my favorite, my favorite,
My favorite girl.. my favorite girl. ~Justin Bieber – Favorite Girl~

Aku menghentikan laguku, aku melihat senyum yang mengembang dari dua sudut bibirnya.
“itu kan lagunya Justin Bieber, kok kamu bisa tau aku Belieber?” tanyanya. Aku hanya tersenyum.
“iya, itu lagu dari penyanyi favorit kamu. Jelas aku tau, di laptop kamu semua gambar JB di hp kamu juga gitu, kamu selalu nanyi lagu JB, di Facebook dan twitter kamu banjir dengan tag foto JB sama retweet dari tweetnya JB.” Ucapku menjelaskan. Ia tertawa, mungkin ia merasa lucu karena aku tau semuanya.
“kamu stalking aku ya, hehe, jadi kenapa kamu pilih lagu favorite girl?” tanyanya, ini lah pertanyaan yang paling aku tunggu.
“karena kamu itu my favorite girl,” jawabku to the point. Laila langsung teriam. Raut wajahnya berubah drastis, tidak ada senyum di wajahnya.
“aku? a..aku?” tanyanya terbata. “gimana bisa? Yang aku tau kamu itu mengejar cewek-cewek cantik. Lik, aku ini gak cantik loh, feminim aja gak”
“La, aku udah ubah persepsiku yang itu, aku suka kamu La, mau gimanapun kamu.”
“hmm, sejujurnya aku juga gitu Lik, dari awal kita masuk organisasi ini, tapi yang aku lihat kamu sibuk kenalan sama teman, sibuk mau deketin ia. Ya aku woles aja sih. Dan jalanin semuanya biasa aja.”
Penjelasan Laila meyakikan ku kalau cintaku tidak akan bertepuk sebelah tangan.
“jadi...” , “tapi...” ucap kami bersamaan.
“kamu aja duluan la,”
“oh, iya. Tapi Lik, maaf aku gak bisa balas perasaan kamu sekarang. Atau nantinya kamu nembak aku buat jadi pacar kamu. Maaf aku gak bisa Lik. Walaupun aku brandal ataugayaku yang kadang menyalahi kodrat. Aku di beri amanah untuk istiqomah hingga menikah. Jadi maaf.” Jelas Laila yang berhasil membuatku membisu. Tenggorokanku rasanya tercekat.
“maaf ya Lik, tapikan kita bestfriend. Tenang aja... dimana ada MaLik pasti ada Laila. Aseeekkkk” ucapnya bercanda. Ia memukul pundakku. Aku mecoba mengembaLikan ekspresiku seperti semula.
“iya, gak masalah kok, aku bisa mengerti, yaudah mau aku anter pulang?” tanyaku. Laila berdiri dan merapikan jilbabnya.
“itu yang aku tunggu-tunggu, yuk pulang.” Ajaknya yang membuatku tertawa, tingkah polosnyalah yang membuatku yakin akan perasaanku. Dan dari Laila juga belajar untuk tidak memandang cewek hanya dari paras. Laila, Insya Allah aku akan menunggumu.
“hmm, btw. Besok-besok nyanyikan lagu yang lain ya, Justin Bieber juga.” Ucapnya pelan, aku hanya tersenyum. Kami pun berjalan menuju parkiran dan pulang.

~MaLik, semoga kau mau menungguku, (Laila)~


~SELESAI~