Tittle :
Oh baby, I…
Genre :
love and romance
Rate :
T(teen)
Cast :
Justin Drew Bieber as himself
Nina Dobrev as herself
Etc
Justin menyusuri koridor kelas dengan langkah
malas, tujuan dari langkahnya hanya satu yaitu ruang konseling. Ini sudah
sekian kalinya Justin dipanggil atas kejahilannya yang dilaporkan oleh
teman-teman yang merasa menjadi korban. Sebenarnya tidak hanya Justin yang
melakukan kejahilan itu, ada Ryan dan Cody yang ikut serta. Hanya saja Justin
tidak mau sahabatnya ikut terlibat dalam masalahnya dengan bagian konseling,
karena semua kejahilan itu Justin yang memprakarsai.
Ia mengetuk pintu kayu berwarna cokelat itu,
diatasnya ada papan kecil bertuliskan ruang konseling. Setelah mendapat
perintah dari dalam, Justinpun masuk. ia berdiri depan meja Miss Julie yang
duduk dibelakang meja.
“Kau tidak ingin menanyakan kenapa kau
dipanggil?” tanya Miss Julie seraya memakai keca matanya. Justin mengalihkan
pandangan kesegala arah. Untuk apa, untuk apa ia bertanya lagi, kasusnya sama
seperti biasa.
“Tidak!” jawab Justin ketus.
“Kenapa kau selalu membuat ulah kepada
teman-temanmu? Apa masalahnya?”
Justin menghela nafas. “Semua tidak ada
masalahnya Miss, mereka yang selalu mempersalahkan segalanya.” Jawab Justin
sedikit tegas. Kini berbalik Miss Julie yang menghela nafas.
“Ini semua karena orang tuamu yang berpisah?
Benarkan? Kau membuat ulah karena mereka?”
Justin menatap tajam kearah beliau begitu
menyangkutkan masalahnya dengan kedua orang tuanya yang telah berpisah. Benar
memang, Justin menjadi pembuat ulah karena orang tuanya, ia ingin orang tuanya
yang berpisah memperhatikannya saat ia berbuat ulah dan menegurnya. Namun semua
seakan tak berarti bagi keduanya, Justin merasa hidup yang lahir ntah dari
mana, tak satupun dari mereka berniat untuk memperhatikannya. Bahkan demi tidak
mengganggu kenyamanan mereka keduanya membelikan Justin rumah mewah dan isinya.
Bukan untuk tinggal bersama melainkan untuk Justin seorang bersama Bibi Ely,
pembantunya. Setiap minggu kedua orang tuanya memberikannya uang untuk
kebutuhannya. Meskipun hidup berkecukupan, namun bukan itu yang diinginkan Justin.
ia ingin mereka memperhatikannya, seperti saat ia lahir dulu.
“Jangan bawa orang tuaku. Itu urusanku.” Jawab
Justin malas yang kemudian pergi meninggalkan Miss Julie dan juga ruangan
konseling itu.
Ryan dan Cody yang melihat Justin keluar dari
ruang konseling langsung mengejarnya. Durasi Justin didalam tadi diluar dugaan
mereka. Biasanya Justin betah berlama-lama didalam sana. Ntah untuk melawan
setiap perkataan Miss Julie ataupun menggoda beliau yang sudah berkepala tiga.
Namun untuk kali ini, tidak sampai 5 menit Justin sudah keluar.
“Justin, kau tidak apa?” tanya ryan yang
mensejajarkan langkahnya dengan Justin. begitu juga cody yang berada disebelah
kiri Justin.
“Aku tidak apa-apa, apa kalian pernah melihat
ku terluka saat keluar dari ruangan itu?” tanya Justin balik.
“Lain kali biarkan kami juga ikut masuk Just,
jangan hanya kau saja yang disalahkan.” Imbuh Cody yang diikuti anggukan pelan
dari Ryan. Justin tersenyum mendengarnya.
“Kalian tenang saja dan kalian tidak perlu
ikut campur dalam masalahku. Ayo kembali kekelas.” Ucap Justin, ia mempercepat
langkahnya sehingga berjarak beberapa meter dari sahabatnya dibelakang.
***
Justin berjalan pelan di taman kota, ia sering
kemari pada sore hati untuk menenangkan fikirannya. Malamnya ia bekerja
disebuah cafe untuk mencari hiburan bagi dirinya. Berdiam diri dirumah hanya
membuatnya bosan. Meskipun hanya tinggal bersama Bibi Ely, Justin bersyukur
karena beliau sangat baik untuknya. Mengantikan peran orang tuanya yang ntah
kemana.
Ia melihat ada sebuah kaleng yang tergeletak
begitu saja, ada niat jahil untuk menendang
kaleng tersebut ketempat sambah yang berada jauh didepannya. Ia pun mengambil
aba-aba dan menendang kaleng tersebut dengan kuat sehingga melambung.
“Yess..” serunya gembira tanpa melihat kaleng
tadi masuk atau tidak.
Tiba-tiba saja.
“HEY‼!” teriak seorang pria tua bertubuh
gempal sedang menuju kearahnya dengan menggenggam kaleng yang ditendangnya
tadi. Tanpa rasa bersalah Justin menunggu pria itu.
“Ada apa paman?” tanya Justin enteng.
“Apa kau tidak melihat ada orang didepanmu?”
tanya pria itu balik. Justin menaikkan alisnya sebelah.
“Kaleng ini mengenai kepalaku. Lihat ini.!”
Bentak pria itu sambil menunjukkan bekas merah akibat kaleng yang ditendang Justin.
Justin membulatkan matanya.
“Maafkan aku paman. Maafkan aku.” ucap Justin
beberapa kali. Ia membungkukkan badannya setiap kali mengucapkan kata maaf.
Pria itu mendengus kesal dan meninggalkan Justin
begitu saja. Justin menghela nafas lega karena tidak mendapat masalah besar.
“Kenapa hari ini aku begitu sial?” umpat Justin.
ia mengedarkan pandangannya kesetiap sisi taman. Tidak ada yang menarik untuk
dilakukan. Tiba-tiba matanya berhenti pada satu gadis yang sedang duduk
dibangku taman dengan anggun. Knee Legnth Dress berwarna hijau daun yang ia
kenakan dan senyum indah yang dari tadi terbentuk dibibirnya menambah kesan
yang lebih anggun. Menurut Justin, itu sempurna sekali.
Namun satu yang ia pertanyakan dari tadi,
gadis itu terus memandanginya. Setiap kali berkedip arah pandangannya tak juga
berubah, tetap kepada Justin.
“Ada apa dengan gadis itu? Kenapa terus
tersenyum dan memandangiku? Dia mengenalku?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia
pun membalas senyuman gadis itu. Namun hal itu tidak membuat gadis itu
memalingkan wajahnya atau sedikit saja mengubah arah pandangnya ketempat lain.
“Dia mulai membuatku takut.” Ucap Justin
mengada. Ia berdecak kesal dan mendatangi gadis itu lalu duduk disampingnya.
Gadis itu menoleh kearah Justin dengan
pandangannya yang masih tidak berubah, hanya senyumnya saja yang tidak lagi
terukir manis diwajahnya. Beberapa saat kemudian pandangannya beralih lagi
kedepan.
“Aku sudah disampingmu, kenapa kau terus
tersenyum sambil melihatku?” tanya Justin yang dari tadi diliputi rasa
penasaran. Gadis itu sedikit kaget dengan pertanyan Justin, namun ia tidak
berniat menoleh kearah Justin.
“Aku tidak melihatmu, dan tidak tersenyum
kearahmu.” Jawab gadis itu. Suaranya yang lembut langsung menggetarkan hati Justin.
Justin tersenyum karena mendengar suara gadis itu lalu segera mengembalikan
ekspresinya lagi sebelum gadis itu melihatnya tersenyum karena dirinya.
“Lalu kau tersenyum pada siapa?”
“Semua orang?”
Justin menautkan alisnya. Ia tidak ambil
pusing, mungkin saja memang benar kalau gadis itu tidak tersenyum kepadanya.
“Kau sedang apa disini?”
“Duduk.” Jawab gadis itu singkat, Justin
terkekeh mendengar jawabannya.
“Semua orang tau kalau kau sedang duduk.
Selain itu?”
“Merasakan cerahnya sore ini, meskipun semua
terlihat gelap.” ucapnya seraya tersenyum. Justin tidak mengerti dengan
jawabannya. Dan lagi-lagi ia tidak memusingkan hal itu.
“Mari kita berkenalan.” Justin mengulurkan
tangannya. Gadis itu juga mengulurkan tangannya, namun tidak searah dengan Justin
sehingga mereka tidak berjabatan tangan.
“Bagaimana mungkin gadis ini tidak melihat
tanganku?” batin Justin yang bingung.
“Kau tidak ingin menjabat tanganku? Maaf jika
uluran tanganku ntah kearah mana. Aku tidak dapat memastikan dengan pasti kau
berada dimana.” Ucap gadis itu. Justin mengangguk paham. Ia mengerti keadaan
gadis yang dari tadi memperhatikannya dengan senyuman. Ia buta.
Justin menjabat tangan gadis itu.
“Aku Nina,”
“Aku Just… oh.. Juju.” Ucap Justin
memperkenalkan namanya dengan nama Juju. Nina melepaskan jabatan mereka.
“Aku senang kau mau berkenalan denganku. Kau
pasti heran kenapa aku memandangimu dari tadi. Sebenarnya aku tidak
memandangimu, aku juga bingung kearah mana aku memandang. Aku tidak dapat
melihat sejak lahir.”
“…aku sudah tau ini. Kenapa gadis selembut dan
semanis dan sesempurna ini dapat memiliki kekurangan?” batin Justin yang
memandangi Nina.
“Aku harap kau mau terus berteman denganku.”
Ucap Nina dengan senyumnya tak pudar.
“Pastinya, aku akan kemari setiap sore untuk
bertemu denganmu.”
Perkenalan hari ini, merupakan awal bagi Justin
dan juga Nina. Justin tidak menyesal dan berkenalan dengan Nina yang ternyata
memiliki kekurangan. Ia ingin menjadi cahaya untuk kegelapan yang dirasakan Nina
setiap harinya.
Terhitung dari hari itu, Justin dan Nina
sering bertemu ditaman. Saling bersenda gurau ataupun menceritakan tentang
pengalaman mereka. Setiap minggu Justin mengunjungi panti sosial yang menjadi
tempat tinggal Nina. Nina tinggal dipanti sosial dikarenakan saat ia lahir ia
dibuang oleh kedua orang tuanya, itu yang diceritakan pemilik panti saat
pertama kali menemukan Nina di depan pagar panti sosial.
Terkadang Justin juga meminta izin kepada
pemilik panti untuk mengajak Nina pergi bersamanya kecafe. Hal yang paling
disukai Nina adalah kehadiran Justin setiap hari, ia suka mendengar suara Justin,
terlebih saat dia bernyanyi dengan gitarnya. Dan hal yang paling disukai Justin
dari gadis itu adalah senyumnya yang manis dan ketulusannya. Semenjak Tuhan
mempertemukan Justin dengan Nina, ia merasaka hidupnya penuh dengan suara,
tidak hanya suara dari gitarnya atau celotehan teman-teman disekolahnya. Suara
itu adalah hal yang paling dirindukan Justin setiap harinya dan semua itu
berasal dari Nina.
Sore itu, seperti biasa Justin datang ketaman
untuk bertemu dengan gadis yang selalu ia rindukan meskipun telah sering
bertemu. Ia tidak pernah merasa bosan sama sekali, bahkan ia selalu berharap
dapat selalu bersama Nina.
Justin melihat Nina yang telah duduk manis
dibangku taman. Ia menghampiri Nina dan duduk disampingnya.
“Kau sudah datang?” tanya Nina. Justin
tersenyum.
“Hari ini aku membawa gitar. Aku sangat
menyukai lagu ini. Kau mau dengar?” tanya Justin balik tanpa menjawab
pertanyaan Nina. Sore ini ia membawa gitar, Ia ingin menyanyikan sebuah lagu
kesukaannya. Dikhususkan untuk Nina.
“Benarkah? Baiklah akan kudengar.” Jawab Nina,
ia sedikit menoleh kearah Justin. namuan pandangan matanya ntah kearah mana.
Justin membenarkan posisi gitarnya agar
nyaman. “Dengarkan ini.”
Suara petikan dari gitar tersebut pun
terdengar. Justin memulai nyanyiannya sambil menatap Nina yang tersenyum.
“Oh baby, I think that I’m falling in love
with you… I’m lifting my entire heart to you, who are so important… You are the
one… I want you to stay, I’m asking you to stay like this forever.”
Nina terdiam mendengar Justin bernyanyi. Ia
meperhatikan lirik lagu tersebut.
“You make me feel good… inside, every time you
turn towards me…oh.. when you give me a smile… i want to tell you that you’re
so cute, what should I do?... but I’m probably not good enough for you… I want
to give you my heart, but I don’t know if you’d accept it”
Perlahan senyum Nina mengembang, matanya
berkaca-kaca ia benar-benar terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan oleh Justin.
“Oh baby, I think that I’m falling in love
with you… I’m lifting my entire heart to you, who are so important… You are the
one… I want you to stay, I’m asking you to stay like this forever.” (Mike D.
Angelo-Oh Baby, I <english version>)
Justin menghentikan lagunya, tampak dari raut
wajah Nina yag bingung kenapa Justin menghentikan lagunya.
“Kenapa berhenti?” tanya Nina penasaran. Justin
meletakkan gitarnya direrumputan taman dan menyenderkannya kebangku taman.
“Aku menyengajakannya, suatu saat nanti kau
akan mendengarkannya hingga selesai. Aku yang akan menyanyikannya untukmu.”
Jawab Justin. Nina mengangguk senang.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Nina mengalihkan
pembicaraan.
“Seperti biasa, tidak begitu menarik.”
“Lalu apa yang membuatmu tertarik?” tanya Nina
tiba-tiba. Justin sedikit mendekatkan wajahnya ketelinga Nina.
“Dirimu.” Jawab Justin dengan berbisik. Nina
sedikit mendorong tubuhnya kebelakang karena kaget Justin berbisik padanya.
Gadis itu tersenyum dan menunjukkan eye smile dari matanya yang indah.
“Juju, kenapa kau suka sekali membuatku
terkejut?” omel Nina seraya tersenyum. Justin ikut tersenyum melihat Nina yang
sepertinya salah tingkah.
“Benarkah? Apa kau terkejut? Aku tidak
melihatnya, boleh kulakukan lagi?” goda Justin. ia sangat senang melihat Nina
ketika pipinya bersemu. Ia terlihat lebih manis.
“Diamlah..” pekik Nina yang merasa malu. Ia
yakin kalau ekspresinya saat ini sangatlah konyol. Ia sendiri tertawa dalam
hatinya.
“Juju.. kenapa kau mau berteman denganku? Aku
buta, aku bahkan tidak dapat melihat bagaimana wajahku. Apakah aku cantik atau
sebaliknya. Aku merasa kalau semua yang kulakukan it…”
“sssttt…”
Justin meletakkan telunjuknya didepan bibir Nina.
“Kenapa aku harus mempunyai alasan untuk
berteman denganmu? Kau alasanku berada disini. Lalu apa yang harus
dipermasalahkan? Kau cantik Nina, sangat… cantik. Jadi berhentilah merutuki
dirimu sendiri.” Jawab Justin. Nina menghela nafas dan tersenyum.
Benarkah? Benarkah semua yang dikatakan Justin.
Nina sangat bersyukur dapat mengenal Justin.
“Ayo pulang, biar ku antar.” Ajak Justin
seraya menggenggam tangan kanan Nina, sementara tangan kiri Nina memegang
tongkat dan tangan kanan Justin memegang gitar.
***
Justin tersenyum melihat sebuah kalung dengan
mainan berbentuk tetesan air, ukurannya hanya seruas jari manusia dan warna
seperti air, yaitu bening. Sepulang sekolah, ia singgah ketoko perhiasan untuk
membelikan Nina sebuah kalung. Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis
itu. Apa yang ia rasakan saat pertama kali bertemu, apa yang ia rasakan setiap
harinya bersama gadis itu. Ia ingin mengungkapkan semuanya.
“Hey gadis buta‼ hati-hati, kau mau mati
konyol? Jangan nyebrang sembarangan. Atau sebaiknya tidak udah berjalan-jalan.
Menyusahkan saja.”
Terdengar bentakan dari arah jalan besar. Justin
langsung berlari kesana setelah mengetahui siapa yang dibentak oleh seorang
pria didalam mobil berwana biru tersebut. suara klakson dari tadi tidak
berhenti ia bunyikan agar gadis itu segera minggir. Terlihat beberapa orang
hanya melihat kejadian itu tanpa menolongnya.
“Jangan pernah membentaknya.” Bentak Justin
yang datang dari arah kanan. Ia berlari ketengah jalan dan merangkul Nina yang
tampak ketakutan. Justin tau Nina tidak pernah salah saat memilih jalan. Jadi
kenapa pria itu harus memarahinya.
Justin melihat kearah lampu lalu lintas.
Terlihat jelas warna merah terang masih menyala. Ia berdecak kesal.
“Hei paman. Apa kau tidak lihat? Lampunya saja
masih berwarna merah, dan hijau untuk pejalan kaki. Sekarang siapa yang buta?”
omel Justin dengan nada lantang. Pria itu geram dan melihat kesekeliling kalau
beberapa mobil memang berhenti.
Merasa tidak mau kalah, pria itu terus
mengklason mobilnya. Justin geram dengan tidakan pria itu masih bertingkah
anak-anak. Ia hendak memberi pria itu peringatan namun dicegah oleh Nina yang
sepertinya mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Justin.
“Sudah, tenangkan hatimu. Ayo kita pergi.
Maafkan kami paman.” Ucap Nina seraya membungkukkan badannya lalu menegakkannya
kembali. Justin memegang bahu Nina dan menuntunnya ke sebrang.
Tujuan mereka saat ini sama. Sama-sama ketaman
kota. Justin masih kesal dengan pria tadi, sepanjang perjalanan ia terus saja
mengomel tidak jelas. Sedangkan Nina tersenyum geli mendengar Justin mengomel.
Merekapun duduk dibangku taman. Justin
mengeluarkan gitarnya dari tas gitar yang ia bawa dari tadi.
“Nina, kau mau tau sesuatu? Lihatlah aku
membuat sebuah stiker” ucap Justin, ia mengeluarkan sebuah stiker hati berwarna
merah dengan tulisan two of us.
“Bagaimana stikernya?” tanya Nina penasaran.
Ia meraba stiker yang berada ditelapak tangan Justin. “Berbentuk hati?” tanya Nina
lagi.
“Hmm.. ada tulisan two of us, stiker
ini melambangkan kita berdua. Aku akan menempelkannya digitar kesayanganku. Dan
kau harus membawanya satu.” Jawab Justin
dengan semangat. Nina tersenyum senang.
Namun tiba-tiba raut wajah Nina berubah.
Senyumnya tidak lagi mengembang.
“Kenapa? Kau tidak senang?” tanya Justin. Nina
menggeleng.
“Aku senang… sangat senang.. tapi… Aku harus
pergi, aku harus keluar kota. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku.”
Ucap Nina pelan. Justin tersenyum senang, namun kenapa Nina tidak sesenang
dirinya?.
“kau harusnya senang.”
Nina menggeleng. “aku pergi untuk waktu yang
lama, mungkin lebih dari 6 bulan. Aku takut nanti saat aku kembali kau tidak
lagi disini, kau tamat sekolah dan melanjutkan perguruan tinggi ketempat yang
jauh.”
Kini Justin yang terdiam. Harus selama itukah?
Namun sesaat kemudian ia tersenyum. Ia menautkan jari-jarinya pada jari Nina.
“Aku akan menunggu, jangan fikirkan apapun
selain operasi itu. Semuanya akan tetap seperti biasanya.” Ucap Justin
meyakinkan Nina. Gadis itu melepas genggamannya. Perlahan tangannya mengarah
kewajah Justin. jari-jarinya kini bersentuhan dengan wajah Justin, dengan
hati-hati ia meraba wajah Justin. senti tiap senti tidak ia lewatkan.
“Suatu saat aku akan mengukir wajahmu ju. Aku
akan tau seperti apa kau saat aku melihat nanti.”
Justin tersenyum. Ia teringat akan kalung yang
ia beli tadi. Iapun mengeluarkannya dari saku celananya.
“Menghadaplah kearah kiri.” Pinta Justin. Nina mengangguk lalu menuruti
pria itu. Justin menyibakkan rambut cokelat Nina kearah kanan. Ia melepaskan
kaitan kalung tersebut dan memakaikannya keleher Nina.
Nina yang kaget langsung meraba lehernya. Ia
merasa ada sesuatu yang melingkar dilehernya.
“Kalung ini akan membawamu kepadaku.
Percayalah.” Ucap Justin. Nina mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Justin,
meskipun sebenarnya ia tidak dapat melihat apapun. Ia mengangguk, bulir airmata
mulai membasahi pipinya setetes demi setetes. Justin langsung memeluknya dan
membuat tangis gadis itu pecah.
“…aku
tidak akan mengatakannya sekarang, aku ingin melihat kesungguhanmu untuk
mencariku setelah kau dapat melihat…”~Justin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar