Favorite Girl
Rofikotul Husna
Namaku Malik. Aku menyukai seorang gadis, seorang gadis yang ku anggap unik. Ia pekerja keras, sangat percaya diri dan mudah bergaul. Awalnya aku tak begitu memperhatikannya, aku terlalu sibuk melihat gadis-gadis yang berparas cantik. Tapi setelah berjalan 2 bulan aku berada dalam satu organisasi yang sama, perlahan rasa itu muncul. Aku mulai suka memperhatikannya, memperhatikan sifatnya yang cukup tomboy meskipun ia berhijab, memperhatikan tingkahnya yang konyol dengan beberapa temannya, memperhatikan bagaimana ia tertawa bahagia, menangis, bahkan raut wajah lucunya ketika bingung. Terlebih ketika ia mencoba akrab denganku. Aku rasa aku memang menyukainya.
Hari ini aku melihatnya berlari dari depan
gerbang menuju aula. Sebenarnya aku sedang tidak menunggunya, hanya saja ntah
mengapa aku ingin melihat keluar dari lantai dua ini. Dan binggo, aku
melihat kedatangannya dari arah gerbang. Beberapa kali ia melihat kearah arloji
berwarna ungu yang melingkar di penggelangan tangan kanannya. Ia telat 30 menit
dari waktu yang ditentukan, aku yakin ia akan mendapat masalah dari ketua
panitia.
Kini ia
mulai menaiki tangga dengan cepat, hingga akhirnya sampai di depan aula. Ia
membuka pintu aula itu pelan, dan...
“Laila! Kamu telat 30 menit!” bentak Roy
selaku ketua panitia untuk acara yang akan dilaksanakan besok. Laila terbelalak
kaget, ia tersenyum kecil dan menghampiri Roy.
“iya aku telat, aku minta maaf, tapi aku udah
permisi sama kak Fara kalau aku bakalan telat,” ungkap Laila dengan nafas masih
belum beraturan. Aku memandangi mereka dari dekat jendela, ia menganggap kalau
dirinya benar sehingga ia tetap bersikukuh kalau ia tidak salah.
“disini yang ketua panitia siapa? Aku atau kak
Fara? Kamu sekarang dihukum keliling lapangan satu kali,”
“apaaaa!!!!” pekik Laila kaget, ia tetap tidak
terima kalau ia bersalah. Ia menghembus jilbab ke atas, ia sedikit memiringkan
kepalnya kekiri, menaikkan lengan bajunya dan meletakkan kedua tangannya di
pinggang. Ia menghentakkan kaki kanannya beberapa kali.
“heh,” ucap Laila kasar seraya mendorong bahu Roy
dengan telunjuknya. “kamu fikir kamu siapa? Kamu hanya ketua panitia, ingat gak
lebih. Toh ketua yang sebenarnya untuk acara ini adalah kak Fara, lantas kenapa
kalau aku permisi sama kak Fara?” bentak Laila. Dapat ku akui keberanian ia,
namun ia bersalah, dan tetap harus dihukum.
“kamu berani dorong aku?” tanya Roy yang kaget
dengan tingkah Laila. Laila melangkah kedepan, dan Roy harus mundur kebelakang.
“kamu fikir aku takut sama kamu? Enggak!!!
Kamu itu udah semena-mena, sesuka hati menghukum orang.” Laila semakin mendekat
hingga badan Roy menyentuh dinding.
“dan kamu, itu gak pantes jadi ketua panitia,
karena apa? Kamu hanya menyuruh bukan bekerja sama,” bentak Laila.
“hukuman kamu jadi lima kali keliling
lapangan, kerjakan atau kamu tidak ikut acara ulang tahun organisasi kita
besok,” ucap Roy yang berhasil membuat Laila teriam, ia mundur beberapa
langkah, dan Roy pergi begitu saja.
Semua orang yang berada di aula melihatnya
dengan iba, termasuk aku yang juga tidak tega melihatnya.
“kenapa pada ngeliatin, mau ikutan keliling
lapangan juga?” bentak Laila yang kemudian pergi, aku melihatnya berlari
menuruni tangga dan menuju lapangan. Ia berdiri di pinggir lapangan itu. Laila,
tingkahmu itu yang membuatku semakin penasaran.
“aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!”
teriaknya setelah menarik nafas dalam-dalam, dan ia mulai berlari mengelilingi
lapangan. Aku hanya dapat tersenyum melihatnya.
Akupun mengambil botol minumku, lalu permisi
pada Roy untuk keluar sebentar. Mana mungkin tega aku melihat orang yang ku
suka harus seperti itu. Dan hanya Laila yang sanggup menerima tantangan itu
tanpa menolak lagi. Kamu tau Laila, mungkin aku tak salah jika aku menyukaimu.
Maybe...
Aku berdiri di pinggir lapangan, bersyukur
karena cuaca sedang bersahabat, semilir angin mungkin dapat menyejukkan hati
yang sedang emosi. Ia tak melihatku sama sekali, mungkin karena terlalu fokus
untuk meluapkan emosinya.
Sudah lima kali ia keliling lapangan, ia
berjalan ketengah lapangan. Meluruskan kakinya lalu berbaring menatap matahari
yang tepat di atasnya. Aku menghampirinya, dan berdiri didepannya untuk
menutupi silau matahari. Ia menatapku.
“oh, MaLik, kamu ngapain kemari? Ntar kamu
dihukum juga sama si songong Roy itu” tanya Laila yang menganti posisinya
dengan duduk. Atu tersenyum dan ikut duduk disampingnya. Ku berikan air minum
yang tadi ku bawa. Ia menerimanya setelah menyibakkan poninya keatas.
“capek?” tanyaku yang ternyata mengundang
gelak tawanya.
“hahahaahhahahah, kamu nanya capek? Yaiyalah,
mana ada orang yang keliling lapangan 5 kali bilangnya gak capek, ngawur kamu,”
ucapnya terkekeh, ini adalah hal yang paling aku sukai, memandanginya saat ia
tertawa.
Mungkin selama ini aku salah, hanya melihat
perempuan dari tampangnya saja, hanya dari kecantikan. Karena pada waktu itu
aku telah menemukan sebuah kebahagiaan jika melihat atau dapat dekat dengan
perempuan yang cantik. Tapi sekarang, aku nyaman, nyaman berada disamping
perempuan sederhana yang ramah dan bersahabat. Yang selalu membuat segalanya menjadi
ramai karena suaranya.
“hey, ngelamun ya?” tanya Laila yang
menyenggol lenganku, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“hmm, kamu kok mau disuruh lari 5 kali
keliling lapangan? Padahalkan kamu tadi hanya disuruh sekali untuk keliling,
kenapa gak minta hukuman yang pertama aja?” tanyaku yang mengalihkan
pertanyaan, aku tidak ingin ia curiga karena ku perhatikan tadi.
“maLik, aku ini bukan seorang pengecut.
Hukumanku itu 5 kali karena udah mendorong ia, mengancamnya, bahkan
membentaknya. Dan yang paling utama aku telat, jadi kenapa aku harus menawar
lagi?” jawabnya. Aku mengangguk paham dan berdiri. Ku ulurkan tanganku.
“ayo, kita harus kembali. Karena kita masih
ada tugas” ajakku, ia menggenggam tanganku dan berdiri. Kamipun kembali ke
aula.
***
Aku dan Laila duduk di kursi yang menghadap
panggung, melihat bagaimana penampilan hiburan untuk besok, ia menaikkan kaki
kanannya keatas lututnya. Dan menyenderkan tubuhnya di kursi tersebut.
Tiba-tiba saja kak Fara masuk dengan wajah
kurang bersahabat. Ia meghampiri Roy yang berada didepan kami.
“Roy, tadi kakak lihat Laila keliling
lapangan, dan ada laporan karena ia terlambat, benar?” tanya kak Fara yang
berhasil membuat mata Laila membulat. Lagi-lagi ia menghembus jilbabnya ke
atas.
“oh god, apalagi? Apa aku akan disalahkan
lagi?” gumamnya pelan.
“iya, kak. Ia terlambat dan gak izin sama Roy
jadi Roy suruh aja ia keliling lapangan, impaskan kak?” tanya Roy yang membuat Laila
semakin geram, Laila mengepalkan tangannya.
“kenapa kamu berbuat sesuka hati?” tanya kak Fara
yang berhasil membungkam mulut Roy, ku fikir kak Fara akan membela Laila.
Karena dari awal Laila sudah permisi akan terlambat. Aku juga melihat kearah Laila
yang sedang bingung dengan kak Fara.
“jawab kakak!” bentak kak Fara yang tidak
mendapat jawaban dari Roy. Roy sedikit panik, matanya mulai melirik ntah
kemana.
“maaf kak, Roy gak ngerti maksud kakak apa”
“gak ngerti? Seharusnya kamu tanya dulu sama
kakak, ia sudah permisi belum, kakak yakin ia pasti bilang kalau kakak
memberikan izin ia telat. Dan kamu, kenapa kamu sesuka hati menghukumnya? Kamu
fikir lari keliling lapangan lima kali itu tidak capek?” jelas kak Fara dengan
nada tegas. Roy hanya bisa tertunduk. Dan kak Fara pun pergi.
Aku melihat Laila tersenyum puas.
“hey ketua songong,” panggil Laila kasar dari
tempat duduknya. Roy berbaLik menghadapnya.
“sudah ku bilang kan? Makanya jangan jadi
ketua yang hanya pamer sama jabatan, jadi semena-mena kan?” ejek Laila yang tampak
bahagia. Sesaat kemuian ia tertawa.
Roy berjalan mendekatinya. “aku minta maaf,”
ucap Roy pelan. Laila hanya tersenyum sinis, ia mengepalkan tangannya. Oh God,
aku rasa ia akan menghajar Roy. Dan benar saja, ia mulai melayangkan pukulan ke
pipi kanan Roy. Roy hanya bisa terpejam pasrah.
Tapi....
Apa yang terjadi? Kepalan tangan Laila
berhenti didekat pipi Roy, hanya berjarak sekitar 3 cm. Sesaat kemuian di
menampar pipi Roy pelan.
“hahahahahhahhah, takut ya? Ah cemen banget.
Tenang aja, udah aku maafin kok, hahaha,” ucapnya yang membuat kami tercengang,
ia tertawa puas. Laila memang gadis yang penuh dengan kejutan.
***
Tiba di hari yang di tunggu, yaitu hari ulang
tahun organisasi kami. Setiap panitia sibuk menyiapkan semuanya, mulai dari
mengecek panggung, dekorasi yang dari semalam kami kerjakan dan juga menghitung
jumlah makanan yang akan di bagikan.
Dan aku, tugasku hanya mengiringi Laila
menyanyi dengan gitar. Aku sangat senang mendapat bagian ini. Aku melatih
kembali kunci-kunci gitar yang ku mainkan, agar nanti pada saat acara berjalan
dengan lancar. Sementara Laila masih didandani oleh kak elma di ruangan.
15 menit menunggu tiba-tiba saja aku
terhenyak. Aku berjalan menghampiri Laila yang masih sibuk membenarkan dressnya.
Aku memperhatikannya, sangat memperhatikannya. Sesaat kemuian ia kembali
menatapku.
“hey, kenapa ngeliatin? Mau mengejekku ya?”
tanya Laila seraya tertawa. Aku tersadar dan merasa malu karena telah
memperhatikannya secara terang-terangnya. Aku rasa pipiku memerah.
“dihh, ngelamun lagi, kenapa sih? Dressnya
aneh ya?”
Aku tersenyum kearahnya, “tidak, cantik kok,
tumben jadi wanita seutuhnya?” ledekku diiringin ketawa ringan, ia membulatkan
matanya.
“sudah, ayo sebentar lagi acara dimulai.”
Ajakku. Kamipun pergi kebelakang panggung untuk mempersiapkan semuanya.
Kurang lebih satu jam kemuian, acara dimulai.
Sebagai pembuka kami mepersembahkan sebuah lagu ulang tahun. Hatiku sangat
senang dapat mengiringinya bernyanyi. Memperhatikannya secara iam-iam saat ia
melantunkan lagu tersebut. semoga nanti menjadi kebahagiaan untukku.
***
Acara berlangsung meriah hingga sore, saat
acara selesai kami membereskan semua peralatan yang kami gunakan. aku ingin
mengungkapkan perasaanku padanya. Apakah ini waktu yang tepat?
Aku melihatnya keluar ruangan ia telah
mengganti pakaiannya, aku tau ia sangat tidak betah memakai dress seperti tadi.
Namun itu permulaan yang bagus untuk cewek tomboy seperti ia.
Aku mengambil gitar dan menghampirinya. “lagi
sibuk? Ada waktu?” tanya ku, ia memutarkan kedua bola matanya.
“mau ngajakin jalan ya?” tanyanya bergurau,
kami tertawa bersama.
“jawab aja dulu,”
“hmm, gak ada, kenapa?” tanyanya yang
penasaran, aku langsung menarik tangannya.
“ikut aja.” Ajakku. Kami keluar dari aula dan
menuju lapangan. Detak jantungku semkin cepat bahkan tak beraturan. Biasanya
ketika aku ingin menyatakan perasaanku, aku tidak merasakan apa-apa bahkan biasa
saja. Tapi entah mengapa kali ini sangat... sangat berbeda.
Kami duduk ditengah lapangan. ia tidak banyak
protes.
“aku punya lagu untukmu, ini lagu dari
penyanyi favorit kamu.” Kataku yang mebuatnya bingung. Aku mulai memetik
gitarku.
“oouohhh, oouohh, oooouuaahhh ahh, oouuaaah,”
Laila tersenyum mendengar awalan ku bernyanyi.
Ia sudah menebak algu apa yang akan kunyanyikan.
“I always knew you
were the best, the coolest girl I know
So prettier than all the rest, the star of my show
So many times I wished, You’d be the one for me
But never knew you’d get Like this, girl what you do to me
You’re who i’m thinkin of, girl you ain’t my runner up
And no matter what you’re always number one
My prize posession one and only, Adore you girl I want you
the one I can’t live without, That’s you, that’s you
You’re my special little lady, the one that makes me crazy
Of all the girls i’ve ever known, it’s you...it’s you
My favorite, my favorite, my favorite,
My favorite girl.. my favorite girl.” ~Justin Bieber – Favorite Girl~
Aku menghentikan laguku, aku melihat senyum
yang mengembang dari dua sudut bibirnya.
“itu kan lagunya Justin Bieber, kok kamu bisa
tau aku Belieber?” tanyanya. Aku hanya tersenyum.
“iya, itu lagu dari penyanyi favorit kamu.
Jelas aku tau, di laptop kamu semua gambar JB di hp kamu juga gitu, kamu selalu
nanyi lagu JB, di Facebook dan twitter kamu banjir dengan tag foto JB sama
retweet dari tweetnya JB.” Ucapku menjelaskan. Ia tertawa, mungkin ia merasa
lucu karena aku tau semuanya.
“kamu stalking aku ya, hehe, jadi kenapa kamu
pilih lagu favorite girl?” tanyanya, ini lah pertanyaan yang paling aku tunggu.
“karena kamu itu my favorite girl,” jawabku to
the point. Laila langsung teriam. Raut wajahnya berubah drastis, tidak ada
senyum di wajahnya.
“aku? a..aku?” tanyanya terbata. “gimana bisa?
Yang aku tau kamu itu mengejar cewek-cewek cantik. Lik, aku ini gak cantik loh,
feminim aja gak”
“La, aku udah ubah persepsiku yang itu, aku
suka kamu La, mau gimanapun kamu.”
“hmm, sejujurnya aku juga gitu Lik, dari awal
kita masuk organisasi ini, tapi yang aku lihat kamu sibuk kenalan sama teman,
sibuk mau deketin ia. Ya aku woles aja sih. Dan jalanin semuanya biasa aja.”
Penjelasan Laila meyakikan ku kalau cintaku
tidak akan bertepuk sebelah tangan.
“jadi...” , “tapi...” ucap kami bersamaan.
“kamu aja duluan la,”
“oh, iya. Tapi Lik, maaf aku gak bisa balas
perasaan kamu sekarang. Atau nantinya kamu nembak aku buat jadi pacar kamu.
Maaf aku gak bisa Lik. Walaupun aku brandal ataugayaku yang kadang menyalahi
kodrat. Aku di beri amanah untuk istiqomah hingga menikah. Jadi maaf.” Jelas Laila
yang berhasil membuatku membisu. Tenggorokanku rasanya tercekat.
“maaf ya Lik, tapikan kita bestfriend. Tenang
aja... dimana ada MaLik pasti ada Laila. Aseeekkkk” ucapnya bercanda. Ia
memukul pundakku. Aku mecoba mengembaLikan ekspresiku seperti semula.
“iya, gak masalah kok, aku bisa mengerti,
yaudah mau aku anter pulang?” tanyaku. Laila berdiri dan merapikan jilbabnya.
“itu yang aku tunggu-tunggu, yuk pulang.”
Ajaknya yang membuatku tertawa, tingkah polosnyalah yang membuatku yakin akan
perasaanku. Dan dari Laila juga belajar untuk tidak memandang cewek hanya dari
paras. Laila, Insya Allah aku akan menunggumu.
“hmm, btw. Besok-besok nyanyikan lagu yang
lain ya, Justin Bieber juga.” Ucapnya pelan, aku hanya tersenyum. Kami pun
berjalan menuju parkiran dan pulang.
~MaLik, semoga kau mau menungguku, (Laila)~
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar