Rotating SpongeBob

Jumat, 09 Oktober 2015

tips

TIPS MENGHILANGKAN GALAU


السلم عليكم ورحمة الله وبركته
Apa kabar semuanya, sekarang ini gue mau aktif di blog. Jadi blog gue gak terbengkalai dengan begitu saja. Udah kayak sepeda rusak yang ngangkrak begitu saja. J
Hari ini gue mau ngasih tips tentang menglihangkan rasa galau versi gue sendiri. Insyaallah ampuh, Aamiin J
1.      Anggap galau itu adalah sebuah kerupuk
Lo tau kerupuk kan? Kerupuk itu rapuh men... yaa walaupun gak membuang sebagian sifat asli dari kerupuk yaitu keras –“. Nah, disini bukan gue mau bahas kerupuk. Gue mau bilang kalau lo lagi galau, anggap aja itu sebuah kerupuk yang enak banget kalau lo makan. Terlebih pake nasi. Nah nasi disini itu bisa jadi sebuah kegiatan yang bermanfaat. Bisa jadi saat lo lagi galau tiba-tiba lo kepikiran buat bersihin rumah, di iringi lagu kemerdekaan biar semangat. Bisa juga saat lo galau, lo garain emak lo yang lagi capek. :D bukan...bukan... bukan gitu. Maksud gue lo serua-seruan bareng emak atau abah lo. Ya mudah-mudahan aja galau lo itu ilang dengan perlahan. Atau setidaknya si galau itu sadar diri biar gak terus-terusan menjajah dirilo. Dan kalau lo suka sesuatu yang ekstrim, lo bisa salto dari atas kasur lo menuju lantai. :D hahahah XD

2.      Dengerin lagu ngebit
Kalau yang ini emang bener-bener gue banget. Gue biasanya kalau lagi galau itu ngidupin lagu ngebit lalu jingkrak-jingkrakkan gak jelas. Itu gue. Nah buat yang sifatnya gak overdosis kayak gue, lo bisa cukup dengerin lagu ngebit bertempo 140 km/jam. Atau yang gak suka lagu ngebit juga bisa dengerin lagu islami. Hindari sebisa mungkin kontak langsung dengan lagu melo yang mengisahkan tentang kegalauanmu. Inget men, lagu galau itu hanya menghantu lo doank.. percaya deh..*muka melas*

3.      Curhat
Ini pasti sering di lakukan sama para remaja jama sekarang. Galau dikit curhat, galau dikit curhat. Mana curhatnya sama orang yang salah. Kalau mau curhat itu gak ada salahnya. Tapi usahakan curhatnya sama orang yang udah punya banyak pengalaman. Yang udah ngerasain asam manisnya kehidupan. Sama nenek lo keg, atok lo gitu.. :D kagak ding, gue bercanda. Kalau lo mau curhat, utamakan curhatnya ke الله gitu. Inget men, sedih senang sertakan  الله, jangan pas susah lo inget, pas seneng lo lupa. Ya kaleee –“, setelah itu kalau lo merasa gak gengsi, curhat ke orang tua. Mau gimanapun solusinya itu adalah yang terbaik.
Saran gue, kalaupun lo mau curhat sama sebaya lo. Lo mesti tau, gimana orang itu. Jangan kemaruk, jumpa sama yang ini curhat, yang itu curhat. Lo kira lagi salaman.

4.      Menulis
Walaupun umur lo gak sepanjang jaman, yang penting tulisan lo bermanfaat bagi generasi lo. Lo galau? Nulis aja men... tapi bukan nulis curhatan lo yang alaynya melebihi batas normal. Lo tulis tentang apa yang lo rasain tapi dengan bahasa yang indah, yang bisa membuat manfaat bagi yang baca biar gak ketularan galau kayak lo. Lo tau kan kalau galau itu rasanya gak enak, jadi jangan biarkan yang lain ngikutin jejak lo.

5.      Ingat kepada-Nya
Ini yang paling penting. Sama kayak curhat, apapun yang terjadi lo mesti tetep inget sama الله, bersyukur saat lo mendapat nikmat, bersabar saat lo kesusahan. Tetap berdoa dan bersabar. Galau itu gak bakal lama kalau lo gak menikmatinya.

Oke, segitu aja tipsnya semoga bermanfaat. Galau itu gak enak meenn... seriusan, jadi jangan mau lo galau. Lo mesti kayak gue yang anti galau. Error aja sebisa lo. Selama lo bisa seneng kenapa mesti galau. Kegalauan terbesar itu ada didiri lo sendiri.

Sekian... salam super galau :D
Dan salam Beliebers
Nantikan postingan saya yang lebih eror lainnya


والسم عليكم ورحمة الله وبركته



 

Kamis, 08 Oktober 2015

contoh feature

SEMANGAT TINGGI, ATLET MUDA BADMINTON
Rofikotul Husna

Ketika semua orang sibuk dengan aktivitasnya, di saat itu lahir seorang bayi laki-laki, tepat 15 tahun yang lalu. Adriyansyah Hamdani, begitu nama lengkap remaja itu dan akrab dipanggil Dani, ia lahir di Desa Karang Tengah, Kec. Serba Jadi, Kab. Serdang bedagai  tanggal 21 desember 2000. Hadir ke dunia sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara. Buah hati pasangan M.Hidayat dan Sayani ini berhasil membuat bangga orang tuanya disetiap pertandingannya.

Di saat penulis mewawancarai Dani di Gedung PBSI yang berada Jl. Gedung PBSI Medan State, Kota Medan, Senin 28 september 2015, peserta Badminton ini sangat bersemangat menceritakan tentang hidupnya. Sejak kecil ia sangat terobsesi ingin menjadi seorang pemain Badminton, bahkan sebelum mengikuti latihan serius ia selalu mengajak orang tua dan kakaknya untuk bermain Badminton di halaman rumahnya yang tidak terlalu lebar. Ia mengungkapkan kalau atlet favoritnya adalah Alan Budikusuma, sang legenda Badminton Indonesia. Ia ingin sekali mengikuti jejaknya. “dulu kalau main Badminton di halaman rumah, karena belum ikut latihan serius. Inginnya seperti Om Alan Budikusuma,” ujarnya dengan polos.

Saat kelas tiga SD dani dan keluarganya pindah rumah ke serdang bedagai, tempat tinggalnya sekarang. Disinilah awal semua hobinya tersalurkan. Sudiono, Abang dari ibunya, tepatnya uwaknya merupakan pemain badminton di kampungnya, beliau juga memiliki lapangan badminton dibelakang rumahnya. Mengetahui hal itu, Dani meminta kepada ibunya untuk ikut latihan setiap malam di tepat uwaknya. Namun, ibunya tidak setuju karena malam latihan itu adalah malam sekolah. Tak habis akal, Dani segera mengatakan kepada uwaknya kalau ia tidak dapat latihan setiap malam sekolah. Dan akhirnya uwaknya mengajaknya untuk latihan di Dolok Masihul bersama anak-anaknya setiap jam 3 sore. Dengan tekun ia mejalani latihannya, meskipun begitu tugas utamanya sebagai seorang pelajar tetaplah dijalani. Ia mampu membagi waktunya dengan baik.

Keseriusannya untuk mewujudkan cita-citanya memang tidaklah mudah, beberapa kali di setiap pertandingan ia selalu kalah. “tidak setiap pertandingan dani menang kak, beberapa kali dani kalah, kadang lawannya tidak seimbang, terkadang karena faktor dari dani sendiri. Tapi dani tetap semangat kak, karena dani juga menang kalau bertanding.” Jelasnya dengan senyum yang mengembang.
Melanjutkan pendidikannya, Dani masuk ke MTs.N Dolok Masihul. Disini ia juga di amanahkan mewakili sekolahnya untuk ikut Porseni sebagai perwakilan dari sekolahnya untuk bidang Badminton di ganda pemula putra bersama Faisal, teman latihannya. Dimulai dari antar sekolah, antar kecamatan, antar kabupaten, hingga akhirnya antar provinsi. Tak berhenti sampai disitu, mereka juga berhasil sampai ketingkat nasional.

Selain itu, dani juga sering ikut pertandingan besar antara lain Sirkuit Nasional, Biskuat Cup, Kejurda, Kejurprov, dan lain-lain. Beberapa piala juga bertengger di meja hias yang berada dirumahnya.


Dan baru-baru saja ia berhasil meraih juara 3 bersama pasangan gandanya, di Kejuaran provinsi untuk ganda pemula putra yang di adakan dari tangga 28 sept-02 okt 2015 di gedung PBSI Medan.

Rabu, 06 Mei 2015

cerpen

Favorite Girl

Rofikotul Husna 

Namaku Malik. Aku menyukai seorang gadis, seorang gadis yang ku anggap unik. Ia pekerja keras, sangat percaya diri dan mudah bergaul. Awalnya aku tak begitu memperhatikannya, aku terlalu sibuk melihat gadis-gadis yang berparas cantik. Tapi setelah berjalan 2 bulan aku berada dalam satu organisasi yang sama, perlahan rasa itu muncul. Aku mulai suka memperhatikannya, memperhatikan sifatnya yang cukup tomboy meskipun ia berhijab, memperhatikan tingkahnya yang konyol dengan beberapa temannya, memperhatikan bagaimana ia tertawa bahagia, menangis, bahkan raut wajah lucunya ketika bingung. Terlebih ketika ia mencoba akrab denganku. Aku rasa aku memang menyukainya.
Hari ini aku melihatnya berlari dari depan gerbang menuju aula. Sebenarnya aku sedang tidak menunggunya, hanya saja ntah mengapa aku ingin melihat keluar dari lantai dua ini. Dan binggo, aku melihat kedatangannya dari arah gerbang. Beberapa kali ia melihat kearah arloji berwarna ungu yang melingkar di penggelangan tangan kanannya. Ia telat 30 menit dari waktu yang ditentukan, aku yakin ia akan mendapat masalah dari ketua panitia.
 Kini ia mulai menaiki tangga dengan cepat, hingga akhirnya sampai di depan aula. Ia membuka pintu aula itu pelan, dan...
“Laila! Kamu telat 30 menit!” bentak Roy selaku ketua panitia untuk acara yang akan dilaksanakan besok. Laila terbelalak kaget, ia tersenyum kecil dan menghampiri Roy.
“iya aku telat, aku minta maaf, tapi aku udah permisi sama kak Fara kalau aku bakalan telat,” ungkap Laila dengan nafas masih belum beraturan. Aku memandangi mereka dari dekat jendela, ia menganggap kalau dirinya benar sehingga ia tetap bersikukuh kalau ia tidak salah.
“disini yang ketua panitia siapa? Aku atau kak Fara? Kamu sekarang dihukum keliling lapangan satu kali,”
“apaaaa!!!!” pekik Laila kaget, ia tetap tidak terima kalau ia bersalah. Ia menghembus jilbab ke atas, ia sedikit memiringkan kepalnya kekiri, menaikkan lengan bajunya dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia menghentakkan kaki kanannya beberapa kali.
“heh,” ucap Laila kasar seraya mendorong bahu Roy dengan telunjuknya. “kamu fikir kamu siapa? Kamu hanya ketua panitia, ingat gak lebih. Toh ketua yang sebenarnya untuk acara ini adalah kak Fara, lantas kenapa kalau aku permisi sama kak Fara?” bentak Laila. Dapat ku akui keberanian ia, namun ia bersalah, dan tetap harus dihukum.
“kamu berani dorong aku?” tanya Roy yang kaget dengan tingkah Laila. Laila melangkah kedepan, dan Roy harus mundur kebelakang.
“kamu fikir aku takut sama kamu? Enggak!!! Kamu itu udah semena-mena, sesuka hati menghukum orang.” Laila semakin mendekat hingga badan Roy menyentuh dinding.
“dan kamu, itu gak pantes jadi ketua panitia, karena apa? Kamu hanya menyuruh bukan bekerja sama,” bentak Laila.
“hukuman kamu jadi lima kali keliling lapangan, kerjakan atau kamu tidak ikut acara ulang tahun organisasi kita besok,” ucap Roy yang berhasil membuat Laila teriam, ia mundur beberapa langkah, dan Roy pergi begitu saja.
Semua orang yang berada di aula melihatnya dengan iba, termasuk aku yang juga tidak tega melihatnya.
“kenapa pada ngeliatin, mau ikutan keliling lapangan juga?” bentak Laila yang kemudian pergi, aku melihatnya berlari menuruni tangga dan menuju lapangan. Ia berdiri di pinggir lapangan itu. Laila, tingkahmu itu yang membuatku semakin penasaran.
“aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!” teriaknya setelah menarik nafas dalam-dalam, dan ia mulai berlari mengelilingi lapangan. Aku hanya dapat tersenyum melihatnya.
Akupun mengambil botol minumku, lalu permisi pada Roy untuk keluar sebentar. Mana mungkin tega aku melihat orang yang ku suka harus seperti itu. Dan hanya Laila yang sanggup menerima tantangan itu tanpa menolak lagi. Kamu tau Laila, mungkin aku tak salah jika aku menyukaimu. Maybe...
Aku berdiri di pinggir lapangan, bersyukur karena cuaca sedang bersahabat, semilir angin mungkin dapat menyejukkan hati yang sedang emosi. Ia tak melihatku sama sekali, mungkin karena terlalu fokus untuk meluapkan emosinya.
Sudah lima kali ia keliling lapangan, ia berjalan ketengah lapangan. Meluruskan kakinya lalu berbaring menatap matahari yang tepat di atasnya. Aku menghampirinya, dan berdiri didepannya untuk menutupi silau matahari. Ia menatapku.
“oh, MaLik, kamu ngapain kemari? Ntar kamu dihukum juga sama si songong Roy itu” tanya Laila yang menganti posisinya dengan duduk. Atu tersenyum dan ikut duduk disampingnya. Ku berikan air minum yang tadi ku bawa. Ia menerimanya setelah menyibakkan poninya keatas.
“capek?” tanyaku yang ternyata mengundang gelak tawanya.
“hahahaahhahahah, kamu nanya capek? Yaiyalah, mana ada orang yang keliling lapangan 5 kali bilangnya gak capek, ngawur kamu,” ucapnya terkekeh, ini adalah hal yang paling aku sukai, memandanginya saat ia tertawa.
Mungkin selama ini aku salah, hanya melihat perempuan dari tampangnya saja, hanya dari kecantikan. Karena pada waktu itu aku telah menemukan sebuah kebahagiaan jika melihat atau dapat dekat dengan perempuan yang cantik. Tapi sekarang, aku nyaman, nyaman berada disamping perempuan sederhana yang ramah dan bersahabat. Yang selalu membuat segalanya menjadi ramai karena suaranya.
“hey, ngelamun ya?” tanya Laila yang menyenggol lenganku, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“hmm, kamu kok mau disuruh lari 5 kali keliling lapangan? Padahalkan kamu tadi hanya disuruh sekali untuk keliling, kenapa gak minta hukuman yang pertama aja?” tanyaku yang mengalihkan pertanyaan, aku tidak ingin ia curiga karena ku perhatikan tadi.
“maLik, aku ini bukan seorang pengecut. Hukumanku itu 5 kali karena udah mendorong ia, mengancamnya, bahkan membentaknya. Dan yang paling utama aku telat, jadi kenapa aku harus menawar lagi?” jawabnya. Aku mengangguk paham dan berdiri. Ku ulurkan tanganku.
“ayo, kita harus kembali. Karena kita masih ada tugas” ajakku, ia menggenggam tanganku dan berdiri. Kamipun kembali ke aula.
***
Aku dan Laila duduk di kursi yang menghadap panggung, melihat bagaimana penampilan hiburan untuk besok, ia menaikkan kaki kanannya keatas lututnya. Dan menyenderkan tubuhnya di kursi tersebut.
Tiba-tiba saja kak Fara masuk dengan wajah kurang bersahabat. Ia meghampiri Roy yang berada didepan kami.
“Roy, tadi kakak lihat Laila keliling lapangan, dan ada laporan karena ia terlambat, benar?” tanya kak Fara yang berhasil membuat mata Laila membulat. Lagi-lagi ia menghembus jilbabnya ke atas.
“oh god, apalagi? Apa aku akan disalahkan lagi?” gumamnya pelan.
“iya, kak. Ia terlambat dan gak izin sama Roy jadi Roy suruh aja ia keliling lapangan, impaskan kak?” tanya Roy yang membuat Laila semakin geram, Laila mengepalkan tangannya.
“kenapa kamu berbuat sesuka hati?” tanya kak Fara yang berhasil membungkam mulut Roy, ku fikir kak Fara akan membela Laila. Karena dari awal Laila sudah permisi akan terlambat. Aku juga melihat kearah Laila yang sedang bingung dengan kak Fara.
“jawab kakak!” bentak kak Fara yang tidak mendapat jawaban dari Roy. Roy sedikit panik, matanya mulai melirik ntah kemana.
“maaf kak, Roy gak ngerti maksud kakak apa”
“gak ngerti? Seharusnya kamu tanya dulu sama kakak, ia sudah permisi belum, kakak yakin ia pasti bilang kalau kakak memberikan izin ia telat. Dan kamu, kenapa kamu sesuka hati menghukumnya? Kamu fikir lari keliling lapangan lima kali itu tidak capek?” jelas kak Fara dengan nada tegas. Roy hanya bisa tertunduk. Dan kak Fara pun pergi.
Aku melihat Laila tersenyum puas.
“hey ketua songong,” panggil Laila kasar dari tempat duduknya. Roy berbaLik menghadapnya.
“sudah ku bilang kan? Makanya jangan jadi ketua yang hanya pamer sama jabatan, jadi semena-mena kan?” ejek Laila yang tampak bahagia. Sesaat kemuian ia tertawa.
Roy berjalan mendekatinya. “aku minta maaf,” ucap Roy pelan. Laila hanya tersenyum sinis, ia mengepalkan tangannya. Oh God, aku rasa ia akan menghajar Roy. Dan benar saja, ia mulai melayangkan pukulan ke pipi kanan Roy. Roy hanya bisa terpejam pasrah.
Tapi....
Apa yang terjadi? Kepalan tangan Laila berhenti didekat pipi Roy, hanya berjarak sekitar 3 cm. Sesaat kemuian di menampar pipi Roy pelan.
“hahahahahhahhah, takut ya? Ah cemen banget. Tenang aja, udah aku maafin kok, hahaha,” ucapnya yang membuat kami tercengang, ia tertawa puas. Laila memang gadis yang penuh dengan kejutan.
***
Tiba di hari yang di tunggu, yaitu hari ulang tahun organisasi kami. Setiap panitia sibuk menyiapkan semuanya, mulai dari mengecek panggung, dekorasi yang dari semalam kami kerjakan dan juga menghitung jumlah makanan yang akan di bagikan.
Dan aku, tugasku hanya mengiringi Laila menyanyi dengan gitar. Aku sangat senang mendapat bagian ini. Aku melatih kembali kunci-kunci gitar yang ku mainkan, agar nanti pada saat acara berjalan dengan lancar. Sementara Laila masih didandani oleh kak elma di ruangan.
15 menit menunggu tiba-tiba saja aku terhenyak. Aku berjalan menghampiri Laila yang masih sibuk membenarkan dressnya. Aku memperhatikannya, sangat memperhatikannya. Sesaat kemuian ia kembali menatapku.
“hey, kenapa ngeliatin? Mau mengejekku ya?” tanya Laila seraya tertawa. Aku tersadar dan merasa malu karena telah memperhatikannya secara terang-terangnya. Aku rasa pipiku memerah.
“dihh, ngelamun lagi, kenapa sih? Dressnya aneh ya?”
Aku tersenyum kearahnya, “tidak, cantik kok, tumben jadi wanita seutuhnya?” ledekku diiringin ketawa ringan, ia membulatkan matanya.
“sudah, ayo sebentar lagi acara dimulai.” Ajakku. Kamipun pergi kebelakang panggung untuk mempersiapkan semuanya.
Kurang lebih satu jam kemuian, acara dimulai. Sebagai pembuka kami mepersembahkan sebuah lagu ulang tahun. Hatiku sangat senang dapat mengiringinya bernyanyi. Memperhatikannya secara iam-iam saat ia melantunkan lagu tersebut. semoga nanti menjadi kebahagiaan untukku.
***
Acara berlangsung meriah hingga sore, saat acara selesai kami membereskan semua peralatan yang kami gunakan. aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Apakah ini waktu yang tepat?
Aku melihatnya keluar ruangan ia telah mengganti pakaiannya, aku tau ia sangat tidak betah memakai dress seperti tadi. Namun itu permulaan yang bagus untuk cewek tomboy seperti ia.
Aku mengambil gitar dan menghampirinya. “lagi sibuk? Ada waktu?” tanya ku, ia memutarkan kedua bola matanya.
“mau ngajakin jalan ya?” tanyanya bergurau, kami tertawa bersama.
“jawab aja dulu,”
“hmm, gak ada, kenapa?” tanyanya yang penasaran, aku langsung menarik tangannya.
“ikut aja.” Ajakku. Kami keluar dari aula dan menuju lapangan. Detak jantungku semkin cepat bahkan tak beraturan. Biasanya ketika aku ingin menyatakan perasaanku, aku tidak merasakan apa-apa bahkan biasa saja. Tapi entah mengapa kali ini sangat... sangat berbeda.
Kami duduk ditengah lapangan. ia tidak banyak protes.
“aku punya lagu untukmu, ini lagu dari penyanyi favorit kamu.” Kataku yang mebuatnya bingung. Aku mulai memetik gitarku.
“oouohhh, oouohh, oooouuaahhh ahh, oouuaaah,”
Laila tersenyum mendengar awalan ku bernyanyi. Ia sudah menebak algu apa yang akan kunyanyikan.
I always knew you were the best, the coolest girl I know
So prettier than all the rest, the star of my show
So many times I wished, You’d be the one for me
But never knew you’d get Like this, girl what you do to me
You’re who i’m thinkin of, girl you ain’t my runner up
And no matter what you’re always number one
My prize posession one and only, Adore you girl I want you
the one I can’t live without, That’s you, that’s you
You’re my special little lady, the one that makes me crazy
Of all the girls i’ve ever known, it’s you...it’s you
My favorite, my favorite, my favorite,
My favorite girl.. my favorite girl. ~Justin Bieber – Favorite Girl~

Aku menghentikan laguku, aku melihat senyum yang mengembang dari dua sudut bibirnya.
“itu kan lagunya Justin Bieber, kok kamu bisa tau aku Belieber?” tanyanya. Aku hanya tersenyum.
“iya, itu lagu dari penyanyi favorit kamu. Jelas aku tau, di laptop kamu semua gambar JB di hp kamu juga gitu, kamu selalu nanyi lagu JB, di Facebook dan twitter kamu banjir dengan tag foto JB sama retweet dari tweetnya JB.” Ucapku menjelaskan. Ia tertawa, mungkin ia merasa lucu karena aku tau semuanya.
“kamu stalking aku ya, hehe, jadi kenapa kamu pilih lagu favorite girl?” tanyanya, ini lah pertanyaan yang paling aku tunggu.
“karena kamu itu my favorite girl,” jawabku to the point. Laila langsung teriam. Raut wajahnya berubah drastis, tidak ada senyum di wajahnya.
“aku? a..aku?” tanyanya terbata. “gimana bisa? Yang aku tau kamu itu mengejar cewek-cewek cantik. Lik, aku ini gak cantik loh, feminim aja gak”
“La, aku udah ubah persepsiku yang itu, aku suka kamu La, mau gimanapun kamu.”
“hmm, sejujurnya aku juga gitu Lik, dari awal kita masuk organisasi ini, tapi yang aku lihat kamu sibuk kenalan sama teman, sibuk mau deketin ia. Ya aku woles aja sih. Dan jalanin semuanya biasa aja.”
Penjelasan Laila meyakikan ku kalau cintaku tidak akan bertepuk sebelah tangan.
“jadi...” , “tapi...” ucap kami bersamaan.
“kamu aja duluan la,”
“oh, iya. Tapi Lik, maaf aku gak bisa balas perasaan kamu sekarang. Atau nantinya kamu nembak aku buat jadi pacar kamu. Maaf aku gak bisa Lik. Walaupun aku brandal ataugayaku yang kadang menyalahi kodrat. Aku di beri amanah untuk istiqomah hingga menikah. Jadi maaf.” Jelas Laila yang berhasil membuatku membisu. Tenggorokanku rasanya tercekat.
“maaf ya Lik, tapikan kita bestfriend. Tenang aja... dimana ada MaLik pasti ada Laila. Aseeekkkk” ucapnya bercanda. Ia memukul pundakku. Aku mecoba mengembaLikan ekspresiku seperti semula.
“iya, gak masalah kok, aku bisa mengerti, yaudah mau aku anter pulang?” tanyaku. Laila berdiri dan merapikan jilbabnya.
“itu yang aku tunggu-tunggu, yuk pulang.” Ajaknya yang membuatku tertawa, tingkah polosnyalah yang membuatku yakin akan perasaanku. Dan dari Laila juga belajar untuk tidak memandang cewek hanya dari paras. Laila, Insya Allah aku akan menunggumu.
“hmm, btw. Besok-besok nyanyikan lagu yang lain ya, Justin Bieber juga.” Ucapnya pelan, aku hanya tersenyum. Kami pun berjalan menuju parkiran dan pulang.

~MaLik, semoga kau mau menungguku, (Laila)~


~SELESAI~

Minggu, 19 April 2015

syifa

Syifa memang tidak pernah menyangka dapat berpacaran dengan Alawy, seseorang yang ia taksir karena di kenalkan oleh teman satu kampusnya 7 bulan yang lalu. 2 bulan mereka dekat pada akhirnya mereka berpacaran. Namun Alawy tidak menganggap mereka tengah berpacaran, Alawy hanya menganggap hubungan mereka sebatas taaruf saja. 


Syifa merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja perpustakaan,ia keluar dari perpustakaan setelah pamit pada petugas perpustakaan, Syifa memang dikenal sebagai gadis yang lembut dan sopan, tak jarang banyak laki-laki dari kalangan apapun tertarik pada Syifa,namun Syifa telah memiliki Alawy yang menurutnya Alawy adalah malaikat dalam hidupnya. Hidupnya lebih tenang setelah kenal dengan Alawy. 



Ia berjalan menyusuri koridor kampus menuju pintu gerbang. 



“Sipeeehhh” panggil seseorang dari arah samping kanan ketika ia tlah berada di halaman kampus, ia menoleh , tampak Yunda , teman satu jurusannya tengah berlari menghampiri Syifa. 



“aku nyariin kamu .. kemana aja siih?” tanya Yunda yang sedikit terengah-engah. Syifa cengengesan. 



“aku dari tadi di perpus, maaf yaa? By the way ada apa Ndee?” Tanya Syifa. 



“nih.. ini hasil ujian kamu.. selamat yaa.. kamu dapet nilai sempurna,, besok jumpai pak indra di kantornya,, kan Pak Indra udah janji bakal kasih hadiah kalau ada yang dapet nilai sempurna..” 



“beneran?? Yaa ampun.. thanks deh yaa Yunde” ucap Syifa yang menerima hasil ujiannya, ia pun segera beranjak pergi. 



“kamu mau kemana? Buru-buru amat sii?” 



“duhh maaf yee Yunde,, Alawy udah nunggu dari tadi,, jadi kagak bisa lama-lama kita ngobrolnya..” 



“yaudah deh,, hati-hati yee Sipeeeh” 



“iyee Yundeee” 



Syifa pun meninggalkan Yunda, ia segera mengahampiri Alawy yang telah menunggunya sekitar lima belas menit yang lalu. 



“maaf ya lama, tadi di panggil sama Yunda..” ucap Syifa yang merasa tak enak. 



“iya gak papa kok,, udah mau langsung pulang atau gimana?” Tanya Alawy yang membukakan pintu untuk Syifa. 



“langsung pulang aja deh,, biar bisa tidur siang, kamu bilang kan kamu mau ngajak aku buat makan malam bareng temen-temen kamu..” 



“yaudah,, tapi jangan lupa, sholat zhuhur dulu,,” 



“iyaa Awy..” jawab Syifa yang kemudian masuk kedalam mobil, mereka pun pulang. 

***
Pukul 7 malam, Syifa tlah siap untuk pergi dengan Alawy. Ia tampak cantik dengan pakaian sederhana yang ia kenakan, Syifa memang orang yang sangat sederhana . padahal ia salah satu putri tunggal dari keluarga yang sangat kaya. 



“hai..” sapa Syifa yang menghampiri Alawy yang tlah menunggunya di ruang tamu. Alawy sendiri hanya tersenyum kepadanya. 



“ maaf ya? Pasti nunggu lama?” Tanyanya yang merasa tak enak pada Alawy. 



“enggak kok, lagian kan udah biasa..” jawab Alawy lembut. 



“yaudah , bentar yaa pamit sama mama papa dulu.” 



Alawy hanya mengangguk. Ia pun berpamitan pada orang tuanya. Begitu pula Alawy yang berpamitan pada orang tua Syifa 



Mereka pun segera pergi karena takut kalau teman-teman Alawy menunggu lama. Syifa sebenarya malu kalau ikut bergabung dengan teman-temannya, terlebih jika sebagian teman-temannya itu wanita , dan rata-rata dari mereka berhijab. Namun, Alawy selalu bilang kalau ia dapat berhijab juga, karena ia lebih baik daripada teman-temannya yang berhijab. Hanya saja Syifa berkata kalau ia belum siap untuk berhijab walau pacarnya itu mengatakan kalau ia memiliki sifat yang lebih baik dari pada teman-teman wanita Alawy yang berhijab. 



Alawy menyuruh Syifa untuk duduk disampingnya. Syifa menurut, ia duduk disamping Alawy. Kalau hanya untuk duduk disampingnya, itu sering dilakukan Syifa. Yang tidak pernah adalah di gandeng di rangkul bagaimana layaknya orang yang berpacaran. 



“Syifa apa kabar,, udah jarang kelihatan,, banyak tugas kampusnya dek?” Tanya Fha yang berada di sampingnya. Fha adalah teman Alawy yang paling dekat dengannya, dialah yang selalu membantu Syifa selama 5 bulan berpacaran dengan Alawy, ia telah menganggap Fha sebagai kakaknya. 



“baik kug kak Fha,, enggak juga kok kak, emang jarang kemana-kemana sekarang..” jawabnya sopan. 



“ masih belum berhijab yaa?? Gak segan apa sering kumpul sama teman-temannya Alawy?” samber Inah dengan ketusnya, Syifa hanya bisa tertunduk. Alawy menepuk bahunya seraya tersenyum, ia pun mengangguk tanpa berminat menjawab pertanyaan Inah yang menurutnya itu seenaknya saja. 



Menurut pengakuan Fha, Inah menyukai Alawy dari SMP, hanya saja Alawy menganggap Inah itu sebatas teman bermain. Jika dibandingkan dengan Syifa, Inah cukup perfect untuk Alawy yang dikenal dengan pengetahuan dia tentang agama islam, ia juga rajin beribadah dan dia cantik karena hijabnya. Seimbang memang, Syifa tak kalah cantik dengan Inah, namun pengetahuannya tentang islam kurang. 



“biarkan Syifa menjalani hidupnya, suatu saat nanti ia juga akan berhijab kok..” jawab Faisal yang tak menyukai cara bicara Inah. 



“kapan ?? nunggu azal menjemput??” Tanya Inah lagi yang membuat Syifa terkejut. 



“kalau mau mengingatkan itu bagus,, tapi sebaiknya kamu jaga cara bicara kamu, mana tau Syifa lagi belajar sama Alawy..” jawab Fha yang sama denga Faisal. 



“sudah.. makasih yaa kak Inah,, iya kak,,nanti Syifa belajar berhijab kok..” potong Syifa yang tak ingin ada keributan. 



“Syifa tau mana yang menurutnya baik.. kita liat aja bagaimana keesokkannya.” Sambung Alawy yang akhirnya angkat bicara. Inah sedikit mengomel tidak jelas. 



“yaudah,, kita itu mau makan kenapa jadi ribut gak jelas gini sih. Pelayan….” Ucap Rizky yang langsung memanggil pelayan café. 



*** 



“yaudah, aku sama Syifa duluan ya? Gak enak juga sama orang tuanya udah jam 9..” ucap Alawy yang pamit pada teman-temannya. 



“iyaa,, hati-hati yaa..” jawab Fha. 



Setelah pamit mereka pun pulang. Begitu pula pada teman-teman Alawy. 



“Ky yuk balik, aku ngantuk.” Ajak Inah dengan ketus. 



“tunggu Nah.. aku mau Tanya ke kamu.. maksud kamu nanya gitu ke Syifa apa?? Aku tau maksud kamu bagus.. tapi kamu juga harus ngertiin perasaan dia donk..” Tanya Fha panjang lebar. 



“kenapa emangnya?? Suka suka aku donk.. biar Alawy itu sadar kalau pacar dia itu gimanaaaa gitu..” 



“ehh.. emangnya kamu itu jauh lebih baik dari Syifa.. kalau begini Syifa itu lebih baik walaupun dia tidak berhijab.” 



“ehhhhhhhh… apa-apaan sih kalian ini… ini di luar kafe malu kali diliatin orang banyak..” lerai Faisal . “udah,, Fha ayo pulang..” sambung Faisal yang mulai menstater motornya. 



“iyaa sal.. Nah maaf yaa..” ucap Fha yang tak enak hati. Ia pun naik ke motor Faisal. Dan mereka pun pergi. Begitu pula Inah dan Rizky. 



*** 

Syifa duduk di bangku taman kampus, ia menutup buku yang ia baca tadi. Pandangannya yang sendu menatap lurus kedepan. Ia masih memikirkan kata-kata dari Inah tadi malam. Kata-kata itu terus mengganggu fikirannya. 



“apa memang aku harus berhijab?? Tapi aku belum siap…” ucapnya sendiri. 



“sipehh…” panggil yunda yang tiba-tiba datang. 



“ehh kenapa?” 



“kamu yang kenapa? Dari tadi melamun mulu” 



Syifa menghela nafas. Ia menundukkan kepalanya. 



“aku lagi kefikiran kata-katanya kak inah” 



“kenapa sama dia?” 



“semalam dia nyindir aku karena aku belum berhijab,, bahkan sampe bawa-bawa ajal..” 



“lohh…! Kok dia nanyanya bilang gitu,, emangnye apa hak dia?? Kamukan punya hak buat milih..” 



“tapi kata-kata kak Inah ada benernya kok Ndee..” 



“bener dari mane kalau kayak gitu” 



“katanya alawy berhijab itu wajib untuk setiap wanita tanpa memandang akhlak..” 



“apee? Yaa kagak laa sipeehh.. berhijab itu kudu di barengin sama akhlak keleeesss” 



“gak Yundee,, akhlak sama hijab itu dua hal yang berbeda,, layaknya sholat lima waktu,, hijab itu kayak gitu juga. Seenggaknya kalau udah berhijab bakalan bisa mikir kalau mau buat dosa..” 



“masa sii.. jadi kamu gimana? Mau berhijab neh?” 



“pengennya sii,, tapi aku ngerasa belum pantes aja..” 



“nahhh.. kamunya aja gak yakin gitu..yaudah kamu belajar aja,, mulai sekarang kalau kemana-kemana pakai jilbab,, nanti kalau udah terbiasa setiap waktu bakalan pake jilbab terus kok..” 



“ iyaa deh Ndee.. makasii yee?” 



“iyee sippehhhh” 



***
Inah menghampiri Alawy yang tengah merapikan buku-bukunya. Jam pelajaran telah usai 5 menit yang lalu. 



“ assalamualaikum Al..” 



“waalaikumsalam,, ada apa Nah?” 



“pulang bareng siapa kamu nih?” 



“kamukan tau kalau aku selalu pulang sama Syifa..” 



“hmm i..iya,, oh ya,, hmm ,, boleh bareng gak? Aku mau kerumah kamu, kangen juga sama orang tua kamu wy..” 



“ohh,, yaa boleh Nah,, yaudah yuk..” Alawy dan Inah pun menuju parkiran dan langsung menuju kampus Syifa. 



*** 
Syifa tlah menunggu Alawy, ia menunggu di depan gerbang kampus. Tak lama kemudian mobil alawy pun sampai. Syifa merasa ada seseorang selain Alawy di dalam mobilnya. Alawy pun turun. 



“siapa itu wy?” Tanya Syifa yang penasaran . 



“inah fa.. dia mau kerumah aku, katanya kangen sama orang tua aku..” ungkap alawy yang sedikit membuat Syifa kaget. 



“kak Inah dekat sama orang tua kamu?” 



“gitulah fa.. kan udah kenal dari kami kecil-kecil dulu.. nanti kamu juga akan aku kenalin sama orang tua aku kok.. udah yuk pulang..” ajak Alawy yang membukakan pintu untuk Syifa. Ia pun masuk, Inah tesenyum kecut kearahnya. Sementara Syifa hanya membalas senyumnya dengan senyuman ikhlas. 



Mereka pun pergi. Terlebih dahulu Alawy mengantarkan Syifa. Sesampainya di rumah Syifa mereka langsung pamit pulang. Syifa masuki rumahnya dengan gontai. Tidak ada orang dirumahnya. Ia berjalan menuju kamarnya, dan langsung menghempaskan tubuhnya kekasur. Ia merogoh tasnya dan mengambil handphonenya. Di ketiknya beberapa nomor lalu di dekatkan pada telinganya setelah memencet tombol call. 



(“hallo assalamualaikum..”) jawab seseorang di seberang sana. 



“waalaikumussalam.. kak, nanti sibuk gak?” Tanya Syifa yang langsung to the poin. 



(“gak dek, kenapa?”) 



“nanti jam-jam 4 kita bisa ketemuan gak kak? Ada tang mau syifa Tanya dan omongin sama kakak.” 



(“oh.. bisa dek, dikafe biasa yaa dek..”) 



“iyaa kak,, makasih yaa kak,” 



(“yaa dek masama.. assalamualaikum..”) 



“waalaikumussalam..” 



Ia pun mengakhiri panggilannya. Hatinya kini bimbang akan perasaanya. Inah dekat dengan keluarga Alawy dari kecil, pasti banyak respon baik untuk Inah, kemungkinan kecil ia dapat hidup bersama Alawy. 



“astaga…. Syifaaaa… jangan ngarep deh kamu..palingan kamu itu Cuma sebatas pacaran doang sama Alawy… liat kak Inah,, dia dewasa.. cantik, pinter dalam agamanya.. lah kamu… huuuuuhhhh” ia menutup wajahnya dengan bantal setelah kesal pada dirinya sendiri. 



Tiba-tiba saja hpnya berdering, ia melihat kalau yang memanggil itu adalah Alawy. 



“hallo assalamualaikum..” ucapnya setelah mengangkat telpon dari Alawy. 



(“waalaikumussalam..”) 



“udah sampe awy?” 



(“udah kug syifa,, kamu udah makan?”) 



“belum.. aku aja belum ganti baju..” 



(“yaudah cepat ganti baju, trus makan sama sholat.. ntar dapat pahalanya sedikit,,”) 



Syifa tersenyum mendengar perhatian Alawy pada dirinya. 



“iyaa awy,, kamu juga yaa..” 



(“iyaa,, yaudah assalamualaikum”) 



“waalaikumussalam..” 



Setelah panggilan di selesaikan syifa baru teringat akan Inah yang tadi ikut pulang bersama Alawy. 



“astaga syifaa… lupamu akut banget….” 



*** 
Sementara itu dirumah alawy , Inah tampak bahagia dapat bercengkrama dengan keluarga alawy yang tlah sangat dekat denganya.ia sangat berharap kalau orang tua alawy dapat membantunya dalam mendapatkan hati alawy, ia sangat menyukai alawy dari SMP, namun alawy hanya menganggapnya sebagai teman biasa. 



“Inah udah lama gak kemari, makin cantik yaa?” puji ibu alawy. Inah hanya tersenyum malu dan senang atas pujian dari ibu alawy. 



“ahh ibu,, gak juga kok,, masih gini-gini aja inah” 



“pasti makin pinterkan?” Tanya ayah alawy yang semakin membuatnya hatinya meninggi. 



“heheeh” inah hanya dapat cengengesan. 



“senang deh ibu kalau alawy dapet istri kayak Inah.. cantik, pinter, sholehah, baik..” 



“hmm ibu kan kebiasaan deh..” ucap inah malu-malu. 



“tau itu,, alawy, bahkan sampe sekarang belum ada perempuan yang di kenalin ke orang tuanya,, apa dia itu tidak pernah suka sama perempuan..” sambung ayah alawy yang sampai kekuping alawy yang tengah berada di dapur membantu adiknya menyiapkan minum. 



“nanti alawy juga bakal kenalin seorang perempuan ke ayah sama ibu,, jadi tenang aja..” ungkap alawy yang behasil membuat hati inah panas. 



“kak alawy punya pacar kok,, tadi di telpon namanya ifa ifa gitu tadi..”samber annisa adik alawy satu-satunya tang masih duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA. 



“bener itu wy?? Kok gak di kenalin ke ayah sama ibu?” Tanya ayah alawy yang penasaran. 



“kan udah alawy bilang, alawy bakalan kenalin ke ayah sama ibu nanti..” 



“bagaimana orangnya? Seperti inah tidak?” 



Inah merasa semakin panas, ia pun memilih pamit pulang. 



“ayah.. ibu.. inah pamit pulang yaa..” 



“buru-buru sekali, minumannya saja belum siap Nah,,” 



“iya bu,, Inah baru inget ada kerjaan lain,, maaf ya bu?lain kali Inah kemari lagi deh bu..” 



“yaudah,, hati-hati yaa Nah??” 



“iya bu.. assalamualaikum..” 



“waalaikumussalam wr.wb “ 



Inah pun pulang, Alawy sendiri tampak heran, seperti ada yang aneh tiap ia membahas tentang Syifa. 



“ayah,, ibu,,” panggil alawy yang duduk di dekat oaring tuanya. 



“alawy udah di daftari ke al-azhar untuk pertukaran antar mahasiswa, bareng Inah dan Fha juga.. ayah sama ibu setuju kan?” Tanya alawy yang meminta persetujuan dari orang tuanya. 



“tentu saja wy,, kamu ini.. ada-ada saja.. bahkan ayah sama orang tua Inah dan Fha udah memutuskan untuk memindahkan kamu kesana..” 



Alawy sedikit terkejut dengan penyataan ayahnya. Ada yang mengganjal, ia seperti tak dapat meninggalkan Syifa sendiri. 



“bagaimana wy,, mau kan?” 



“hmm,, iya ayah…” jawab alawy setuju. 



“kapan kamu ke kairo?” 



“insya allah minggu bu..” 



*** 

Syifa menunggu seseorang di kafe tempat biasa ia makan bersama teman-teman alawy. Ia telah memesan minuman untuk dirinya sendiri. 



“assalamualaikum dek..” sapa seseorang dari arah belakang. 



“waalaikumussalam kak Fha.. duduk kak,, mau minum apa? Syifa yang bayar..” 



“gak usah dek,, masih penuh perut kakak,” tolak fha dengan halus, ia duduk berhadapan dengan syifa. 



“oh yaa dek,, ada apa?” Tanya fha yang langsung menanya ke inti. 



“hmm gini kak,,hmmm” syifa ragu untuk menanyakan maksud hatinya. 



“apa dek? Tanya aja,, gak papa kok,,” 



“hmmm maaf ya kak kalo kepo.. tadi kan syifa pulang di jemput awy, rupanya di mobil awy ada kak inah, awy bilang kalo kak inah mau ketemu orang tua awy, kangen gitu,, emang udah dekat kali ya kak?” Tanya syifa panjang lebar. 



“ya ampun dek,, kamu ini macem nanya sama siapaa aja,, hmm iyaa si dek,, kakak , kak inah, sama alawy itu udah berteman dari kecil, inah emang dekat sama orang tua alawy, karena dulu yang ngasuh inah orang tua alawy, sementara orang tua inah itu sibuk kerja.. kalau kakak sendiri lebh dekat sama adiknya si annisa, sama alawynya,, makanya kakak itu lebih tau bagaimana pilihan alawy, walaupun orang bilang pilihan alawy itu jelek, tapi kakak lebih tau alawy itu bagaimana. Kamu tenang aja,, orang tua alawy pasti juga senang liat kamu kok dek, kamu udah cantik, pinter, mau belajar,, lembut lagi..” 



“hmm kakak ini,, makasih,,, hmm gitu ya,, alawy emang belum pernah ya ngenalin cewek kerumahnya.?” 



“selain kakak sama kak inah yaa gak ada dek,, dia itu orangnya gak mau sembarangan dek.” 



“ohh,, kak fha mau gak ngajarin syifa berhijab??” 



“adek mau berhijab??” Tanya fha yang tampak senang. Syifa hanya mengangguk. 



“tentulah adekku…” respon fha semangat. 



“makasih yaa kak?” ucap syifa berterima kasih. 



*** 

Hari ini syifa sedang tidak ada jam kuliah, ia mengajak yunda ke mol untuk menemaninya berbelanja. Yunda tampak terkejut dengan apa yang di beli oleh syifa. 



“ kamu emang udah mantepin hati buat berhijab peeeh??” 



Syifa menoleh kearah yunda yang tampak tak yakin dengan pilihannya. 



“yaiayalah yundee…” 



“karena siapa kamu berhijab? Karena alawy?” 



“yee ya kagak laa ndee,, yaa demi allah donk.. apaan sii kamu..” 



“ohh ya bagus deh,, “ ucap yunda sedikit lega. 



Syifa pun melanjutkan belanjanya tadi. 



“kira-kira alawy seneng gak yaa ndee?” Tanya syifa yang sedikit ragu, 



“yaelaaa pehh,, ya seneng laa” 



Tiba-tiba saja 1 pesan masuk ke hpnya syifa. 



“pliss kamu jauhin alawy,, orang tua alawy itu lebih setuju kalau aku yang jadi sama alawy bukan kamu, kamu itu tidak termasuk dalam criteria orang tua alawy terlebih ibunya…dan asal kamu tau, aku fha dan alawy akan pindah kuliah ke kairo,, dan disana, aku dan alawy akan bersatu.. jadi perempuan seperti kamu itu tidak lebih baik dari aku…” 



Mendadak syifa terdiam, ia membiarkan yunda mengiceh sendiri. Pesan yang dikirim oleh inah pada dirinya benar-benar menyakiti hatinya. 



“sipeeehhhmm kamu kenapa?” Tanya yunda yang tau kalau syifa tak merespon semua ucapanya, 



“kamu baca deh,, aku gak tau loh, kenapa kak inah begitu banget sama aku..” 



“yaa jelas karena dia itu cinta mati sama alawy,” 



“tapi aku gak pernah ngerebut alawy dari siapapun loh,, alawy sendiri yang milih aku.. apa aku salah nde.. yaa ampun…” 



“tenang peeh,, kamu gak salah kok, Cuma si inah nya aje yang lebay,, udag kagak usah kamu fikirin..” 



“tapi ndee,, itu alawy mau pindah kekairo.. dia kagak ada bilang ke akunya..” 



“sabar dulu donk,, mana tau nanti dia bilang… udah ah,, yuk pulang..” 



Mereka pun pulang setelah membayar semua belanjaan mereka. 



*** 

Syifa menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia mengambil hpnya dari dalam tasnya. 



“fa,, kamu udah pulang? Tadi ada yang kemari nyariin kamu..” ucap ibu syifa. 



“siapa ma?” 



“cowok,, tampan,, sopan lagi,, pacar kamu kayaknya..” 



Syifa semain penasaran siapa yang datang. 



“namanya?” 



“awy kalau gak salah ..” 



Syifa membulatkan matanya. 

“a..a..awy ma??”Tanyanya yang masih tak percaya. 

“iya si,, katanya ada yang mau di omongin.. penting..” 

“mama gak bilang ke syifa..?” 

“mama mana tau sayang.. udah kamu telepon aja .” 

“iya deh ma.. makasih ya mama… “ 

“iyaa sayang..”
Syifa langsung menelepon awy. Namun sayang, nomor alawy sendiri tengah sibuk. 

“nelpon siapa sih kamu wy?” Tanyanya dalam hati. 

Tiba-tiba saja hpnya bordering 

“hallo.. awy…” 

(“assalamualaikum syifa..”) 

“ehh ,, waalaikumussalam awy..” 

(“ada apa sii fa,, kok gitu banget sampe lupa bilang salam..”) 

“gak ada apa-apa kok wi..” 

(“maaf ya, aku baru ngabarin sekarang,, besok aku mau pergi,,”) 

“kekairo??” 

(“iyaa aku mau pindah kuliah,, bareng fha sama inah juga kok..”) 

“hmm,, iya awy,, good luck buat di sana yaa,, moga nanti balik jadi makin baik..” 

(“iyaa fa,, makasih ya,, aku punya janji bakalan ngenalin kamu ke orang tua aku. Sabar dulu yaa fa..”) 

“iyaa awy, gak papa kok, kamu focus untuk kuliah aja dulu.” 

(“makasih yaa fa.. yaudah kamu jangan lupa makan sama sholat ashar..”) 

“iyaa awy..” 

(“assalamualaikum..”) 

“waalaikumussalam..” 

Panggilan pun selesai, syifa sedikit tenang mendapat kabar dari alawy. Meskipun ia sedih harus berpisah dengan alawy untuk beberapa tahun. 
*** 
Malam ini syifa tak dapat tidur, ia merindukan alawy. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.58 wib. Ia takut kalau inah akan dapat merebut alawy darinya.
“astaghfirullah,, syifaa.. gak boleh suuzhon.. aduh..” ucapnya yang sadar akan fikirannya yang salah. 

“awy… hati-hati ya.. “ ucapnya. Ia mengotak atik hpnya,dan mengirim sebuah gambar yang menunjukkan kesedihannya. 

Alawy sendiri juga belum tidur. Ada rasa berat untuk meninggalkan syifa. 

“astaghfirullah,,, udah wy,, nafsu itu … nafsu..” 

Tiba-tiba saja ada 1 pesan di hpnya. Dan itu dari syifa, ia mengirimkan gambar, alawy makin tak kuat hati harus berpisah dengan syifa beberapa tahun. Ia merasa kalau syifa adalah wanita ynag membuatnya yakin di tiap langkahnya, selalu mendukungnya, dan selalu ada untuknya, karena itu dia juga yakin kalau syifa aka nada disampingnya suatu saat nanti. Dan ia juga yakin dapat merubah penampilan syifa menadi yang lebih baik lagi jika nanti ia mengenalkannya pada kedua orang tuanya. 

Alawy : sipeh belum tidur? 

Syifa : eh,, awy manggilnya sipeeh,, belum wy,, sipeh kefikiran awy,, maaf yaa,, sipeh kangen sama awy.. 

Alawy : iyaa pehh gak papa kok,, yang penting kangenya gak berlebihan aja.. 

Syifa : iyaa awy,, awy kenapa belum tidur? Kan besok mau pergi. 

Alawy : awy belum ngantuk.. 

Syifa : mikirin sipeeh juga awy yaa? 

Alawy : hehe :D udah sipeeeh tidur sana,, besok awy perginya jam 9 loh.. 

Syifa : iyaa awy,, sipehh tidur yaa,, malam.. assalamualaikum awy.. 

Alawy : waalaikumussalam habibati.. 

Begitulah isi dari sms mereka berdua mala mini, awy merasa bahagia dapat lebih akrab dengan syifa, karena selama ini ia merasa harus ada jarak agar tidak menjadi yang berlebihan. Syifapun begitu, ia merasa kalau awy bena-benar pacarnya, ia bahagia dengan cara smsnya malam ini. Syifa pun mulai memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas. 
*** 
Syifa masih mengulet di tempat tidurnya, ini hari minggu. Biasanya ia bangun siang, tapi kali ini tidurnya harus terganggu karena suara hp yang tempat berada di samping bantalnya terus berdering. Dengan segala nyawa yang belum terkumpul dengan sempurna ia pun melihat hpnya. Matanya benar – benar berat untuk terbuka. 

“sippeehhh,, bangun sholat shubuh dulu..” 

“sipeehhh,, udah jam tujuh bangun donk..” 

“syifa,, shubuhnya ketinggalan kan?’ 

“faa,, aku perginya,, aku udah bolak balik ngubungin kamu, kalau saat kamu hubungi aku hpnya udah gak aktif, berarti aku udah di pesawatnya.. jaga diri kamu… assalamualaikum..” 
Mendadak ia membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat 15 panggilan tak terjawab. 

“ALLLLAAAAWWWYYYYYYYYY” pekiknya yang sadar kalau alawy telah pergi ke kairo. 
Ia menyesal kenapa dengan bodohnya ia tak dapat mendengar suara hp yang jelas-jelas berada di samping bantalnya . 

“bodohnya kamu faaa…..” 

*** 
“pehhh udah donk jangan nangis mulu, kalian kan masi bisa chatingan,, skype_an.. udah donk..” ucap yunda yang menenangkan syifa yang dari tadi menangis. 

“aku itu bodoh banget tau,, tadi dia nelpon aku sampe 15 kali, tapi kagak ada aku angkat karena masi tidur…padahal kau itu mau ikut kebandara juga, mau nunjukin kedia kaau aku itu udah berhijab,,” 

“yaelaa pehh, niat kamunya juga salah sih,, berhijab itu karena Allah, bukan karena dia..” 
“hmm iyaa ndee,, aku salah..” 

*** 

2 tahun sudah alawy meninggalkan syifa, kini syifa telah cantik dengan hijab yang ada pada dirinya. Meskipun mereka jauh namun mereka tetap menjalani hubungan seperti biasanya, 2 kali dalam seminggu mereka skype_an, mereka tidak dapat setiap saat skype_an di karenakan jadwal mereka yang padat, belum lagi belakangan ini syifa harus menyusun skripsinya.chattingan mereka tak pernah berhenti. 

Namun seminggu ini alawy tidak ada memberikan kabar kepadanya. Chat syifa tidak ada yang dibalas, skype alawy juga mati. Ia juga lost contact dengan fha, dan ia sangat segan kepada inah untuk menanyakan bagaimana keadaan alawy. 

Seperti biasa , syifa duduk di bangku taman kampus. Ia membuka facebook di laptopnya. Dan betapa kagetnya dia saat ada foto yang di tag ke facebook alawy, dan itu foto inah dan alawy. Foto itu sangat mesra. Hatinya panas melihat foto itu. 

“apaan coba,, tenang faa,, tenang,,jangan suuzhon dulu,, alawy gak pernah foto mesra gitu kok.. tenang,, kak inah juga gak mungkin seperti itu..” 

Syifa pun mengirin pesan kef b alawy. 

“awy gak pernah kasih kabar lagi ke sipeehh….” 

“awy kemana sii? Besok sippeh di wisuda loh…” 

“awyyy ” 

Awy tetap off, syifa sangat berharap kalau alawy datang di acara wisudanya besok. Ia ingin alawy. Syifa terus menunggu chat dan skype dari alawy. Namun tetap saja kalau alawy tak ada mengiriminya chat, atau pun tersambung ke skype. 

“awy kemana sii… “ ucapnya sedih. 

*** 

Acara wisuda telah selesai, syifa sangat senang karena ia tlah menyelesaikan kuliahnya. Ia juga mendapat predikat mahasiswi berprestasi, banyak penghargaan yang ia dapat selama kuliah, belum lagi ia di kenal sebagai mahasiswa yang sopan dan lembut. Banyak laki-laki sukses yang hendak melamar dirinya, namun entah kenapa ia tetap ingin menunggu alawy. Karena alawy telah berjanji akan mengenalkan dirinya kepada orang tuanya. 
Dimobil syifa sibuk mengotak-atik fbnya, ia benar-benar merasa gelisah. Ia juga sempat emosi, namun syukurnya ia masih dapat meredam amarhnya. Tiba-tiba saja hpnya berbunyi dan ada nomor aneh masuk, itu bukan nomor Indonesia. 

“hallo assalamualaikum…” 

“waalaikumussalam..” jawab seorang wanita di sebrang sana. Syifa sedikit memicingkan matanya, ia seperti mengenal suara ini. 

“ini siapa yaa?” 

“dek,, ini kakak,, fha.. udah lupa ya sama kakak?” 

“ohh,, kakak,, hehe,, maaf kak, udah lama kali kita gak komunikasian. Kakak apa kabar?” 

“baik dek, selamat yaa atas wisudanya..” 

“ kakak kok tau..” 

“kamu kan up to date.. dan selamat juga atas berhijabnya…” 

“hmm kakak.. syifa mau bilang terima kasih sama kakak, kakak udah banyak bantu syifa.. oh iyaa,, kakak nelpon syifa dari luar Negara gini apa gak mahal kak?” 

“heleh dek,, tenang aja.. hmm bentar yaa.” 

“kak,, mau kemana??” 

“asslamulaikum..” 

“waalaikumussalam..” mendadak syifa menangis setelah mendengar suara yang berbeda. 

“sipeeh masih inget awy?” 

Syifa tak menjawab, lidahnya terasa kelu, iya sangat merindukan alawy. 

“sipeehhhhhhhh” panggil alawy lagi. 

“i..iya awy,, awy kemana aja?” 

“maaf ya,, aku sibuk.. dan untuk 1 bulan kedepan maaf kalau aku gak bisa kasi kabar ke sipeeh.” 

“iyaa awy,, gak papa kok,, sipeh ngerti .. hmm sipeh mau Tanya,, foto yang di tag ke tempat awy itu bener? Udah gak ada lagi sih fotonya,, Cuma awy sama kaki nah mesra banget.. sipeh gak maksud apa apa.. Cuma Tanya..” 

“sipeh,, itu foto editan,, editannya inah, kamu jangan percaya yaa,, aku juga sempat marah sama dia..” 

“ohh,, gitu yaa,,” 

“iyaa,, yaudah,, selamat atas wisudanya ,, semoga kamu dapat pekerjaan yang baik…” 

“iyaa awy,, makasih yaa??” 

“iyaa ,, yaudah,, assalamualaikum..” 

“waalaikumussalam… 

Telepon pun berakhir, syifa sangat bahagia saat itu juga, namun ia juga harus sedih karena harus putus kontak selama sebulan. 

*** 

Sebulan sudah, bahkan lewat 1 minggu, namun alawy tetap tidak ada memberikan kabar. Hari ini syifa tengah membaca buku terjemahan di depan teras, dengan hijabnya yang tampak lebih mempercantik diri. 
Tiba tiba saja sebuah mobih berhenti di depan rumahnya. Ia pun sedikit bingung, 

“paa ,, maa,, ada tamu mama sama papa tuh..” 
Orang tua syifa pun keluar. Namun dugaan syifa salah bukan tamu orang tuanya yang datang melainkan tamu untuk dirinya. 

“bukan ahh fa,, siapa itu?” 

“ituu….” 

“assalamualaikum..” ucap seorang pria dengan sopan, ia mencium tangan kedua orang tua syifa. 

“maaf ya pak buk,, saya kemari tidak memberi kabar.. bahkan pada syifa pun tidak.” 

“alawy….” Panggil syifa yang tak percaya dengan apa yang tengah berdiri dihadapannya. 

“sebentar yaa..” alawy pun kembali lagi kemobil, ia seperpi memanggil seseorang, benar saja, tak lama kemudian orang tua dan adik alawy keluar dari mobil. Orang tua syifa tersenyum akan kedatangan alawy yang dikatakan nekad itu. 

“assalamualaikum..” ucap kedua orang tua alawy. 

“waalaikumussalam..”jawab kedua orang tua syifa. 

“ayah,, ibu,, ini lah wanita yang awy bilang beberapa tahun lalu yang akan awy kenalin sama ayah dan ibu..” 

“ohh,, cantik yaa,, subhanallah..” puji ibu alawy senang, syifa pun mencium kedua tangan otang tua alawy. 

Mereka pun di persilahkan masuk. 

“maksud kedatangan kami kemari,, ingin mewujudkan cita-cita anak saya untuk mempersunting anak bapak dan ibu..” ungkap ayah alawy yang sontak langsung membuat syifa terkejut. 

“kamu berani sekali nak,, Cuma sekali kamu datang kemari, dan sekali kemari kamu hendak melamar anak saya… bagaimana ma?” Tanya ayah syifa pada ibu syifa. 

“mama terserah syifanya aja pa..” 

“syifa,, hmm,, bismillah.. syifa mau kok paa,, maa,,” 

“Alhamdulillah…” ucap semuanya bahagia.” 

Akhirnya cinta alawy dan syifa pun di sahkan oleh cinta yang suci. 




Husna 
` E n d `