Rotating SpongeBob

Minggu, 06 Maret 2016

JD : Oh Baby, I...(part 1)




Tittle                : Oh baby, I…
Genre              : love and romance
Rate                 : T(teen)
Cast                 : Justin Drew Bieber as himself
                         Nina Dobrev as herself
                         Etc

Justin menyusuri koridor kelas dengan langkah malas, tujuan dari langkahnya hanya satu yaitu ruang konseling. Ini sudah sekian kalinya Justin dipanggil atas kejahilannya yang dilaporkan oleh teman-teman yang merasa menjadi korban. Sebenarnya tidak hanya Justin yang melakukan kejahilan itu, ada Ryan dan Cody yang ikut serta. Hanya saja Justin tidak mau sahabatnya ikut terlibat dalam masalahnya dengan bagian konseling, karena semua kejahilan itu Justin yang memprakarsai.
Ia mengetuk pintu kayu berwarna cokelat itu, diatasnya ada papan kecil bertuliskan ruang konseling. Setelah mendapat perintah dari dalam, Justinpun masuk. ia berdiri depan meja Miss Julie yang duduk dibelakang meja.
“Kau tidak ingin menanyakan kenapa kau dipanggil?” tanya Miss Julie seraya memakai keca matanya. Justin mengalihkan pandangan kesegala arah. Untuk apa, untuk apa ia bertanya lagi, kasusnya sama seperti biasa.
“Tidak!” jawab Justin ketus.
“Kenapa kau selalu membuat ulah kepada teman-temanmu? Apa masalahnya?”
Justin menghela nafas. “Semua tidak ada masalahnya Miss, mereka yang selalu mempersalahkan segalanya.” Jawab Justin sedikit tegas. Kini berbalik Miss Julie yang menghela nafas.
“Ini semua karena orang tuamu yang berpisah? Benarkan? Kau membuat ulah karena mereka?”
Justin menatap tajam kearah beliau begitu menyangkutkan masalahnya dengan kedua orang tuanya yang telah berpisah. Benar memang, Justin menjadi pembuat ulah karena orang tuanya, ia ingin orang tuanya yang berpisah memperhatikannya saat ia berbuat ulah dan menegurnya. Namun semua seakan tak berarti bagi keduanya, Justin merasa hidup yang lahir ntah dari mana, tak satupun dari mereka berniat untuk memperhatikannya. Bahkan demi tidak mengganggu kenyamanan mereka keduanya membelikan Justin rumah mewah dan isinya. Bukan untuk tinggal bersama melainkan untuk Justin seorang bersama Bibi Ely, pembantunya. Setiap minggu kedua orang tuanya memberikannya uang untuk kebutuhannya. Meskipun hidup berkecukupan, namun bukan itu yang diinginkan Justin. ia ingin mereka memperhatikannya, seperti saat ia lahir dulu.
“Jangan bawa orang tuaku. Itu urusanku.” Jawab Justin malas yang kemudian pergi meninggalkan Miss Julie dan juga ruangan konseling itu.
Ryan dan Cody yang melihat Justin keluar dari ruang konseling langsung mengejarnya. Durasi Justin didalam tadi diluar dugaan mereka. Biasanya Justin betah berlama-lama didalam sana. Ntah untuk melawan setiap perkataan Miss Julie ataupun menggoda beliau yang sudah berkepala tiga. Namun untuk kali ini, tidak sampai 5 menit Justin sudah keluar.
“Justin, kau tidak apa?” tanya ryan yang mensejajarkan langkahnya dengan Justin. begitu juga cody yang berada disebelah kiri Justin.
“Aku tidak apa-apa, apa kalian pernah melihat ku terluka saat keluar dari ruangan itu?” tanya Justin balik.
“Lain kali biarkan kami juga ikut masuk Just, jangan hanya kau saja yang disalahkan.” Imbuh Cody yang diikuti anggukan pelan dari Ryan. Justin tersenyum mendengarnya.
“Kalian tenang saja dan kalian tidak perlu ikut campur dalam masalahku. Ayo kembali kekelas.” Ucap Justin, ia mempercepat langkahnya sehingga berjarak beberapa meter dari sahabatnya dibelakang.
***
Justin berjalan pelan di taman kota, ia sering kemari pada sore hati untuk menenangkan fikirannya. Malamnya ia bekerja disebuah cafe untuk mencari hiburan bagi dirinya. Berdiam diri dirumah hanya membuatnya bosan. Meskipun hanya tinggal bersama Bibi Ely, Justin bersyukur karena beliau sangat baik untuknya. Mengantikan peran orang tuanya yang ntah kemana.
Ia melihat ada sebuah kaleng yang tergeletak begitu saja, ada niat jahil untuk menendang  kaleng tersebut ketempat sambah yang berada jauh didepannya. Ia pun mengambil aba-aba dan menendang kaleng tersebut dengan kuat sehingga melambung.
“Yess..” serunya gembira tanpa melihat kaleng tadi masuk atau tidak.
Tiba-tiba saja.
“HEY‼!” teriak seorang pria tua bertubuh gempal sedang menuju kearahnya dengan menggenggam kaleng yang ditendangnya tadi. Tanpa rasa bersalah Justin menunggu pria itu.
“Ada apa paman?” tanya Justin enteng.
“Apa kau tidak melihat ada orang didepanmu?” tanya pria itu balik. Justin menaikkan alisnya sebelah.
“Kaleng ini mengenai kepalaku. Lihat ini.!” Bentak pria itu sambil menunjukkan bekas merah akibat kaleng yang ditendang Justin. Justin membulatkan matanya.
“Maafkan aku paman. Maafkan aku.” ucap Justin beberapa kali. Ia membungkukkan badannya setiap kali mengucapkan kata maaf.
Pria itu mendengus kesal dan meninggalkan Justin begitu saja. Justin menghela nafas lega karena tidak mendapat masalah besar.
“Kenapa hari ini aku begitu sial?” umpat Justin. ia mengedarkan pandangannya kesetiap sisi taman. Tidak ada yang menarik untuk dilakukan. Tiba-tiba matanya berhenti pada satu gadis yang sedang duduk dibangku taman dengan anggun. Knee Legnth Dress berwarna hijau daun yang ia kenakan dan senyum indah yang dari tadi terbentuk dibibirnya menambah kesan yang lebih anggun. Menurut Justin, itu sempurna sekali.
Namun satu yang ia pertanyakan dari tadi, gadis itu terus memandanginya. Setiap kali berkedip arah pandangannya tak juga berubah, tetap kepada Justin.
“Ada apa dengan gadis itu? Kenapa terus tersenyum dan memandangiku? Dia mengenalku?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun membalas senyuman gadis itu. Namun hal itu tidak membuat gadis itu memalingkan wajahnya atau sedikit saja mengubah arah pandangnya ketempat lain.
“Dia mulai membuatku takut.” Ucap Justin mengada. Ia berdecak kesal dan mendatangi gadis itu lalu duduk disampingnya.
Gadis itu menoleh kearah Justin dengan pandangannya yang masih tidak berubah, hanya senyumnya saja yang tidak lagi terukir manis diwajahnya. Beberapa saat kemudian pandangannya beralih lagi kedepan.
“Aku sudah disampingmu, kenapa kau terus tersenyum sambil melihatku?” tanya Justin yang dari tadi diliputi rasa penasaran. Gadis itu sedikit kaget dengan pertanyan Justin, namun ia tidak berniat menoleh kearah Justin.
“Aku tidak melihatmu, dan tidak tersenyum kearahmu.” Jawab gadis itu. Suaranya yang lembut langsung menggetarkan hati Justin. Justin tersenyum karena mendengar suara gadis itu lalu segera mengembalikan ekspresinya lagi sebelum gadis itu melihatnya tersenyum karena dirinya.
“Lalu kau tersenyum pada siapa?”
“Semua orang?”
Justin menautkan alisnya. Ia tidak ambil pusing, mungkin saja memang benar kalau gadis itu tidak tersenyum kepadanya.
“Kau sedang apa disini?”
“Duduk.” Jawab gadis itu singkat, Justin terkekeh mendengar jawabannya.
“Semua orang tau kalau kau sedang duduk. Selain itu?”
“Merasakan cerahnya sore ini, meskipun semua terlihat gelap.” ucapnya seraya tersenyum. Justin tidak mengerti dengan jawabannya. Dan lagi-lagi ia tidak memusingkan hal itu.
“Mari kita berkenalan.” Justin mengulurkan tangannya. Gadis itu juga mengulurkan tangannya, namun tidak searah dengan Justin sehingga mereka tidak berjabatan tangan.
“Bagaimana mungkin gadis ini tidak melihat tanganku?” batin Justin yang bingung.
“Kau tidak ingin menjabat tanganku? Maaf jika uluran tanganku ntah kearah mana. Aku tidak dapat memastikan dengan pasti kau berada dimana.” Ucap gadis itu. Justin mengangguk paham. Ia mengerti keadaan gadis yang dari tadi memperhatikannya dengan senyuman. Ia buta.
Justin menjabat tangan gadis itu.
“Aku Nina,”
“Aku Just… oh.. Juju.” Ucap Justin memperkenalkan namanya dengan nama Juju. Nina melepaskan jabatan mereka.
“Aku senang kau mau berkenalan denganku. Kau pasti heran kenapa aku memandangimu dari tadi. Sebenarnya aku tidak memandangimu, aku juga bingung kearah mana aku memandang. Aku tidak dapat melihat sejak lahir.”
“…aku sudah tau ini. Kenapa gadis selembut dan semanis dan sesempurna ini dapat memiliki kekurangan?” batin Justin yang memandangi Nina.
“Aku harap kau mau terus berteman denganku.” Ucap Nina dengan senyumnya tak pudar.
“Pastinya, aku akan kemari setiap sore untuk bertemu denganmu.”
Perkenalan hari ini, merupakan awal bagi Justin dan juga Nina. Justin tidak menyesal dan berkenalan dengan Nina yang ternyata memiliki kekurangan. Ia ingin menjadi cahaya untuk kegelapan yang dirasakan Nina setiap harinya.
Terhitung dari hari itu, Justin dan Nina sering bertemu ditaman. Saling bersenda gurau ataupun menceritakan tentang pengalaman mereka. Setiap minggu Justin mengunjungi panti sosial yang menjadi tempat tinggal Nina. Nina tinggal dipanti sosial dikarenakan saat ia lahir ia dibuang oleh kedua orang tuanya, itu yang diceritakan pemilik panti saat pertama kali menemukan Nina di depan pagar panti sosial.
Terkadang Justin juga meminta izin kepada pemilik panti untuk mengajak Nina pergi bersamanya kecafe. Hal yang paling disukai Nina adalah kehadiran Justin setiap hari, ia suka mendengar suara Justin, terlebih saat dia bernyanyi dengan gitarnya. Dan hal yang paling disukai Justin dari gadis itu adalah senyumnya yang manis dan ketulusannya. Semenjak Tuhan mempertemukan Justin dengan Nina, ia merasaka hidupnya penuh dengan suara, tidak hanya suara dari gitarnya atau celotehan teman-teman disekolahnya. Suara itu adalah hal yang paling dirindukan Justin setiap harinya dan semua itu berasal dari Nina.

Sore itu, seperti biasa Justin datang ketaman untuk bertemu dengan gadis yang selalu ia rindukan meskipun telah sering bertemu. Ia tidak pernah merasa bosan sama sekali, bahkan ia selalu berharap dapat selalu bersama Nina.
Justin melihat Nina yang telah duduk manis dibangku taman. Ia menghampiri Nina dan duduk disampingnya.
“Kau sudah datang?” tanya Nina. Justin tersenyum.
“Hari ini aku membawa gitar. Aku sangat menyukai lagu ini. Kau mau dengar?” tanya Justin balik tanpa menjawab pertanyaan Nina. Sore ini ia membawa gitar, Ia ingin menyanyikan sebuah lagu kesukaannya. Dikhususkan untuk Nina.
“Benarkah? Baiklah akan kudengar.” Jawab Nina, ia sedikit menoleh kearah Justin. namuan pandangan matanya ntah kearah mana.
Justin membenarkan posisi gitarnya agar nyaman. “Dengarkan ini.”
Suara petikan dari gitar tersebut pun terdengar. Justin memulai nyanyiannya sambil menatap Nina yang tersenyum.
“Oh baby, I think that I’m falling in love with you… I’m lifting my entire heart to you, who are so important… You are the one… I want you to stay, I’m asking you to stay like this forever.”
Nina terdiam mendengar Justin bernyanyi. Ia meperhatikan lirik lagu tersebut.
“You make me feel good… inside, every time you turn towards me…oh.. when you give me a smile… i want to tell you that you’re so cute, what should I do?... but I’m probably not good enough for you… I want to give you my heart, but I don’t know if you’d accept it”
Perlahan senyum Nina mengembang, matanya berkaca-kaca ia benar-benar terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan oleh Justin.
“Oh baby, I think that I’m falling in love with you… I’m lifting my entire heart to you, who are so important… You are the one… I want you to stay, I’m asking you to stay like this forever.” (Mike D. Angelo-Oh Baby, I <english version>)
Justin menghentikan lagunya, tampak dari raut wajah Nina yag bingung kenapa Justin menghentikan lagunya.
“Kenapa berhenti?” tanya Nina penasaran. Justin meletakkan gitarnya direrumputan taman dan menyenderkannya kebangku taman.
“Aku menyengajakannya, suatu saat nanti kau akan mendengarkannya hingga selesai. Aku yang akan menyanyikannya untukmu.” Jawab Justin. Nina mengangguk senang.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Nina mengalihkan pembicaraan.
“Seperti biasa, tidak begitu menarik.”
“Lalu apa yang membuatmu tertarik?” tanya Nina tiba-tiba. Justin sedikit mendekatkan wajahnya ketelinga Nina.
“Dirimu.” Jawab Justin dengan berbisik. Nina sedikit mendorong tubuhnya kebelakang karena kaget Justin berbisik padanya. Gadis itu tersenyum dan menunjukkan eye smile dari matanya yang indah.
“Juju, kenapa kau suka sekali membuatku terkejut?” omel Nina seraya tersenyum. Justin ikut tersenyum melihat Nina yang sepertinya salah tingkah.
“Benarkah? Apa kau terkejut? Aku tidak melihatnya, boleh kulakukan lagi?” goda Justin. ia sangat senang melihat Nina ketika pipinya bersemu. Ia terlihat lebih manis.
“Diamlah..” pekik Nina yang merasa malu. Ia yakin kalau ekspresinya saat ini sangatlah konyol. Ia sendiri tertawa dalam hatinya.
“Juju.. kenapa kau mau berteman denganku? Aku buta, aku bahkan tidak dapat melihat bagaimana wajahku. Apakah aku cantik atau sebaliknya. Aku merasa kalau semua yang kulakukan it…”
“sssttt…”
Justin meletakkan telunjuknya didepan bibir Nina.
“Kenapa aku harus mempunyai alasan untuk berteman denganmu? Kau alasanku berada disini. Lalu apa yang harus dipermasalahkan? Kau cantik Nina, sangat… cantik. Jadi berhentilah merutuki dirimu sendiri.” Jawab Justin. Nina menghela nafas dan tersenyum.
Benarkah? Benarkah semua yang dikatakan Justin. Nina sangat bersyukur dapat mengenal Justin.
“Ayo pulang, biar ku antar.” Ajak Justin seraya menggenggam tangan kanan Nina, sementara tangan kiri Nina memegang tongkat dan tangan kanan Justin memegang gitar.
***
Justin tersenyum melihat sebuah kalung dengan mainan berbentuk tetesan air, ukurannya hanya seruas jari manusia dan warna seperti air, yaitu bening. Sepulang sekolah, ia singgah ketoko perhiasan untuk membelikan Nina sebuah kalung. Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Apa yang ia rasakan saat pertama kali bertemu, apa yang ia rasakan setiap harinya bersama gadis itu. Ia ingin mengungkapkan semuanya.
“Hey gadis buta‼ hati-hati, kau mau mati konyol? Jangan nyebrang sembarangan. Atau sebaiknya tidak udah berjalan-jalan. Menyusahkan saja.”
Terdengar bentakan dari arah jalan besar. Justin langsung berlari kesana setelah mengetahui siapa yang dibentak oleh seorang pria didalam mobil berwana biru tersebut. suara klakson dari tadi tidak berhenti ia bunyikan agar gadis itu segera minggir. Terlihat beberapa orang hanya melihat kejadian itu tanpa menolongnya.
“Jangan pernah membentaknya.” Bentak Justin yang datang dari arah kanan. Ia berlari ketengah jalan dan merangkul Nina yang tampak ketakutan. Justin tau Nina tidak pernah salah saat memilih jalan. Jadi kenapa pria itu harus memarahinya.
Justin melihat kearah lampu lalu lintas. Terlihat jelas warna merah terang masih menyala. Ia berdecak kesal.
“Hei paman. Apa kau tidak lihat? Lampunya saja masih berwarna merah, dan hijau untuk pejalan kaki. Sekarang siapa yang buta?” omel Justin dengan nada lantang. Pria itu geram dan melihat kesekeliling kalau beberapa mobil memang berhenti.
Merasa tidak mau kalah, pria itu terus mengklason mobilnya. Justin geram dengan tidakan pria itu masih bertingkah anak-anak. Ia hendak memberi pria itu peringatan namun dicegah oleh Nina yang sepertinya mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Justin.
“Sudah, tenangkan hatimu. Ayo kita pergi. Maafkan kami paman.” Ucap Nina seraya membungkukkan badannya lalu menegakkannya kembali. Justin memegang bahu Nina dan menuntunnya ke sebrang.
Tujuan mereka saat ini sama. Sama-sama ketaman kota. Justin masih kesal dengan pria tadi, sepanjang perjalanan ia terus saja mengomel tidak jelas. Sedangkan Nina tersenyum geli mendengar Justin mengomel.
Merekapun duduk dibangku taman. Justin mengeluarkan gitarnya dari tas gitar yang ia bawa dari tadi.
“Nina, kau mau tau sesuatu? Lihatlah aku membuat sebuah stiker” ucap Justin, ia mengeluarkan sebuah stiker hati berwarna merah dengan tulisan two of us.
“Bagaimana stikernya?” tanya Nina penasaran. Ia meraba stiker yang berada ditelapak tangan Justin. “Berbentuk hati?” tanya Nina lagi.
“Hmm.. ada tulisan two of us, stiker ini melambangkan kita berdua. Aku akan menempelkannya digitar kesayanganku. Dan kau harus membawanya satu.”  Jawab Justin dengan semangat. Nina tersenyum senang.
Namun tiba-tiba raut wajah Nina berubah. Senyumnya tidak lagi mengembang.
“Kenapa? Kau tidak senang?” tanya Justin. Nina menggeleng.
“Aku senang… sangat senang.. tapi… Aku harus pergi, aku harus keluar kota. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku.” Ucap Nina pelan. Justin tersenyum senang, namun kenapa Nina tidak sesenang dirinya?.
“kau harusnya senang.”
Nina menggeleng. “aku pergi untuk waktu yang lama, mungkin lebih dari 6 bulan. Aku takut nanti saat aku kembali kau tidak lagi disini, kau tamat sekolah dan melanjutkan perguruan tinggi ketempat yang jauh.”
Kini Justin yang terdiam. Harus selama itukah? Namun sesaat kemudian ia tersenyum. Ia menautkan jari-jarinya pada jari Nina.
“Aku akan menunggu, jangan fikirkan apapun selain operasi itu. Semuanya akan tetap seperti biasanya.” Ucap Justin meyakinkan Nina. Gadis itu melepas genggamannya. Perlahan tangannya mengarah kewajah Justin. jari-jarinya kini bersentuhan dengan wajah Justin, dengan hati-hati ia meraba wajah Justin. senti tiap senti tidak ia lewatkan.
“Suatu saat aku akan mengukir wajahmu ju. Aku akan tau seperti apa kau saat aku melihat nanti.”
Justin tersenyum. Ia teringat akan kalung yang ia beli tadi. Iapun mengeluarkannya dari saku celananya.
“Menghadaplah kearah kiri.”  Pinta Justin. Nina mengangguk lalu menuruti pria itu. Justin menyibakkan rambut cokelat Nina kearah kanan. Ia melepaskan kaitan kalung tersebut dan memakaikannya keleher Nina.
Nina yang kaget langsung meraba lehernya. Ia merasa ada sesuatu yang melingkar dilehernya.
“Kalung ini akan membawamu kepadaku. Percayalah.” Ucap Justin. Nina mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Justin, meskipun sebenarnya ia tidak dapat melihat apapun. Ia mengangguk, bulir airmata mulai membasahi pipinya setetes demi setetes. Justin langsung memeluknya dan membuat tangis gadis itu pecah.

“…aku tidak akan mengatakannya sekarang, aku ingin melihat kesungguhanmu untuk mencariku setelah kau dapat melihat…”~Justin.