Rotating SpongeBob

Rabu, 06 Mei 2015

cerpen

Favorite Girl

Rofikotul Husna 

Namaku Malik. Aku menyukai seorang gadis, seorang gadis yang ku anggap unik. Ia pekerja keras, sangat percaya diri dan mudah bergaul. Awalnya aku tak begitu memperhatikannya, aku terlalu sibuk melihat gadis-gadis yang berparas cantik. Tapi setelah berjalan 2 bulan aku berada dalam satu organisasi yang sama, perlahan rasa itu muncul. Aku mulai suka memperhatikannya, memperhatikan sifatnya yang cukup tomboy meskipun ia berhijab, memperhatikan tingkahnya yang konyol dengan beberapa temannya, memperhatikan bagaimana ia tertawa bahagia, menangis, bahkan raut wajah lucunya ketika bingung. Terlebih ketika ia mencoba akrab denganku. Aku rasa aku memang menyukainya.
Hari ini aku melihatnya berlari dari depan gerbang menuju aula. Sebenarnya aku sedang tidak menunggunya, hanya saja ntah mengapa aku ingin melihat keluar dari lantai dua ini. Dan binggo, aku melihat kedatangannya dari arah gerbang. Beberapa kali ia melihat kearah arloji berwarna ungu yang melingkar di penggelangan tangan kanannya. Ia telat 30 menit dari waktu yang ditentukan, aku yakin ia akan mendapat masalah dari ketua panitia.
 Kini ia mulai menaiki tangga dengan cepat, hingga akhirnya sampai di depan aula. Ia membuka pintu aula itu pelan, dan...
“Laila! Kamu telat 30 menit!” bentak Roy selaku ketua panitia untuk acara yang akan dilaksanakan besok. Laila terbelalak kaget, ia tersenyum kecil dan menghampiri Roy.
“iya aku telat, aku minta maaf, tapi aku udah permisi sama kak Fara kalau aku bakalan telat,” ungkap Laila dengan nafas masih belum beraturan. Aku memandangi mereka dari dekat jendela, ia menganggap kalau dirinya benar sehingga ia tetap bersikukuh kalau ia tidak salah.
“disini yang ketua panitia siapa? Aku atau kak Fara? Kamu sekarang dihukum keliling lapangan satu kali,”
“apaaaa!!!!” pekik Laila kaget, ia tetap tidak terima kalau ia bersalah. Ia menghembus jilbab ke atas, ia sedikit memiringkan kepalnya kekiri, menaikkan lengan bajunya dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia menghentakkan kaki kanannya beberapa kali.
“heh,” ucap Laila kasar seraya mendorong bahu Roy dengan telunjuknya. “kamu fikir kamu siapa? Kamu hanya ketua panitia, ingat gak lebih. Toh ketua yang sebenarnya untuk acara ini adalah kak Fara, lantas kenapa kalau aku permisi sama kak Fara?” bentak Laila. Dapat ku akui keberanian ia, namun ia bersalah, dan tetap harus dihukum.
“kamu berani dorong aku?” tanya Roy yang kaget dengan tingkah Laila. Laila melangkah kedepan, dan Roy harus mundur kebelakang.
“kamu fikir aku takut sama kamu? Enggak!!! Kamu itu udah semena-mena, sesuka hati menghukum orang.” Laila semakin mendekat hingga badan Roy menyentuh dinding.
“dan kamu, itu gak pantes jadi ketua panitia, karena apa? Kamu hanya menyuruh bukan bekerja sama,” bentak Laila.
“hukuman kamu jadi lima kali keliling lapangan, kerjakan atau kamu tidak ikut acara ulang tahun organisasi kita besok,” ucap Roy yang berhasil membuat Laila teriam, ia mundur beberapa langkah, dan Roy pergi begitu saja.
Semua orang yang berada di aula melihatnya dengan iba, termasuk aku yang juga tidak tega melihatnya.
“kenapa pada ngeliatin, mau ikutan keliling lapangan juga?” bentak Laila yang kemudian pergi, aku melihatnya berlari menuruni tangga dan menuju lapangan. Ia berdiri di pinggir lapangan itu. Laila, tingkahmu itu yang membuatku semakin penasaran.
“aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!” teriaknya setelah menarik nafas dalam-dalam, dan ia mulai berlari mengelilingi lapangan. Aku hanya dapat tersenyum melihatnya.
Akupun mengambil botol minumku, lalu permisi pada Roy untuk keluar sebentar. Mana mungkin tega aku melihat orang yang ku suka harus seperti itu. Dan hanya Laila yang sanggup menerima tantangan itu tanpa menolak lagi. Kamu tau Laila, mungkin aku tak salah jika aku menyukaimu. Maybe...
Aku berdiri di pinggir lapangan, bersyukur karena cuaca sedang bersahabat, semilir angin mungkin dapat menyejukkan hati yang sedang emosi. Ia tak melihatku sama sekali, mungkin karena terlalu fokus untuk meluapkan emosinya.
Sudah lima kali ia keliling lapangan, ia berjalan ketengah lapangan. Meluruskan kakinya lalu berbaring menatap matahari yang tepat di atasnya. Aku menghampirinya, dan berdiri didepannya untuk menutupi silau matahari. Ia menatapku.
“oh, MaLik, kamu ngapain kemari? Ntar kamu dihukum juga sama si songong Roy itu” tanya Laila yang menganti posisinya dengan duduk. Atu tersenyum dan ikut duduk disampingnya. Ku berikan air minum yang tadi ku bawa. Ia menerimanya setelah menyibakkan poninya keatas.
“capek?” tanyaku yang ternyata mengundang gelak tawanya.
“hahahaahhahahah, kamu nanya capek? Yaiyalah, mana ada orang yang keliling lapangan 5 kali bilangnya gak capek, ngawur kamu,” ucapnya terkekeh, ini adalah hal yang paling aku sukai, memandanginya saat ia tertawa.
Mungkin selama ini aku salah, hanya melihat perempuan dari tampangnya saja, hanya dari kecantikan. Karena pada waktu itu aku telah menemukan sebuah kebahagiaan jika melihat atau dapat dekat dengan perempuan yang cantik. Tapi sekarang, aku nyaman, nyaman berada disamping perempuan sederhana yang ramah dan bersahabat. Yang selalu membuat segalanya menjadi ramai karena suaranya.
“hey, ngelamun ya?” tanya Laila yang menyenggol lenganku, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“hmm, kamu kok mau disuruh lari 5 kali keliling lapangan? Padahalkan kamu tadi hanya disuruh sekali untuk keliling, kenapa gak minta hukuman yang pertama aja?” tanyaku yang mengalihkan pertanyaan, aku tidak ingin ia curiga karena ku perhatikan tadi.
“maLik, aku ini bukan seorang pengecut. Hukumanku itu 5 kali karena udah mendorong ia, mengancamnya, bahkan membentaknya. Dan yang paling utama aku telat, jadi kenapa aku harus menawar lagi?” jawabnya. Aku mengangguk paham dan berdiri. Ku ulurkan tanganku.
“ayo, kita harus kembali. Karena kita masih ada tugas” ajakku, ia menggenggam tanganku dan berdiri. Kamipun kembali ke aula.
***
Aku dan Laila duduk di kursi yang menghadap panggung, melihat bagaimana penampilan hiburan untuk besok, ia menaikkan kaki kanannya keatas lututnya. Dan menyenderkan tubuhnya di kursi tersebut.
Tiba-tiba saja kak Fara masuk dengan wajah kurang bersahabat. Ia meghampiri Roy yang berada didepan kami.
“Roy, tadi kakak lihat Laila keliling lapangan, dan ada laporan karena ia terlambat, benar?” tanya kak Fara yang berhasil membuat mata Laila membulat. Lagi-lagi ia menghembus jilbabnya ke atas.
“oh god, apalagi? Apa aku akan disalahkan lagi?” gumamnya pelan.
“iya, kak. Ia terlambat dan gak izin sama Roy jadi Roy suruh aja ia keliling lapangan, impaskan kak?” tanya Roy yang membuat Laila semakin geram, Laila mengepalkan tangannya.
“kenapa kamu berbuat sesuka hati?” tanya kak Fara yang berhasil membungkam mulut Roy, ku fikir kak Fara akan membela Laila. Karena dari awal Laila sudah permisi akan terlambat. Aku juga melihat kearah Laila yang sedang bingung dengan kak Fara.
“jawab kakak!” bentak kak Fara yang tidak mendapat jawaban dari Roy. Roy sedikit panik, matanya mulai melirik ntah kemana.
“maaf kak, Roy gak ngerti maksud kakak apa”
“gak ngerti? Seharusnya kamu tanya dulu sama kakak, ia sudah permisi belum, kakak yakin ia pasti bilang kalau kakak memberikan izin ia telat. Dan kamu, kenapa kamu sesuka hati menghukumnya? Kamu fikir lari keliling lapangan lima kali itu tidak capek?” jelas kak Fara dengan nada tegas. Roy hanya bisa tertunduk. Dan kak Fara pun pergi.
Aku melihat Laila tersenyum puas.
“hey ketua songong,” panggil Laila kasar dari tempat duduknya. Roy berbaLik menghadapnya.
“sudah ku bilang kan? Makanya jangan jadi ketua yang hanya pamer sama jabatan, jadi semena-mena kan?” ejek Laila yang tampak bahagia. Sesaat kemuian ia tertawa.
Roy berjalan mendekatinya. “aku minta maaf,” ucap Roy pelan. Laila hanya tersenyum sinis, ia mengepalkan tangannya. Oh God, aku rasa ia akan menghajar Roy. Dan benar saja, ia mulai melayangkan pukulan ke pipi kanan Roy. Roy hanya bisa terpejam pasrah.
Tapi....
Apa yang terjadi? Kepalan tangan Laila berhenti didekat pipi Roy, hanya berjarak sekitar 3 cm. Sesaat kemuian di menampar pipi Roy pelan.
“hahahahahhahhah, takut ya? Ah cemen banget. Tenang aja, udah aku maafin kok, hahaha,” ucapnya yang membuat kami tercengang, ia tertawa puas. Laila memang gadis yang penuh dengan kejutan.
***
Tiba di hari yang di tunggu, yaitu hari ulang tahun organisasi kami. Setiap panitia sibuk menyiapkan semuanya, mulai dari mengecek panggung, dekorasi yang dari semalam kami kerjakan dan juga menghitung jumlah makanan yang akan di bagikan.
Dan aku, tugasku hanya mengiringi Laila menyanyi dengan gitar. Aku sangat senang mendapat bagian ini. Aku melatih kembali kunci-kunci gitar yang ku mainkan, agar nanti pada saat acara berjalan dengan lancar. Sementara Laila masih didandani oleh kak elma di ruangan.
15 menit menunggu tiba-tiba saja aku terhenyak. Aku berjalan menghampiri Laila yang masih sibuk membenarkan dressnya. Aku memperhatikannya, sangat memperhatikannya. Sesaat kemuian ia kembali menatapku.
“hey, kenapa ngeliatin? Mau mengejekku ya?” tanya Laila seraya tertawa. Aku tersadar dan merasa malu karena telah memperhatikannya secara terang-terangnya. Aku rasa pipiku memerah.
“dihh, ngelamun lagi, kenapa sih? Dressnya aneh ya?”
Aku tersenyum kearahnya, “tidak, cantik kok, tumben jadi wanita seutuhnya?” ledekku diiringin ketawa ringan, ia membulatkan matanya.
“sudah, ayo sebentar lagi acara dimulai.” Ajakku. Kamipun pergi kebelakang panggung untuk mempersiapkan semuanya.
Kurang lebih satu jam kemuian, acara dimulai. Sebagai pembuka kami mepersembahkan sebuah lagu ulang tahun. Hatiku sangat senang dapat mengiringinya bernyanyi. Memperhatikannya secara iam-iam saat ia melantunkan lagu tersebut. semoga nanti menjadi kebahagiaan untukku.
***
Acara berlangsung meriah hingga sore, saat acara selesai kami membereskan semua peralatan yang kami gunakan. aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Apakah ini waktu yang tepat?
Aku melihatnya keluar ruangan ia telah mengganti pakaiannya, aku tau ia sangat tidak betah memakai dress seperti tadi. Namun itu permulaan yang bagus untuk cewek tomboy seperti ia.
Aku mengambil gitar dan menghampirinya. “lagi sibuk? Ada waktu?” tanya ku, ia memutarkan kedua bola matanya.
“mau ngajakin jalan ya?” tanyanya bergurau, kami tertawa bersama.
“jawab aja dulu,”
“hmm, gak ada, kenapa?” tanyanya yang penasaran, aku langsung menarik tangannya.
“ikut aja.” Ajakku. Kami keluar dari aula dan menuju lapangan. Detak jantungku semkin cepat bahkan tak beraturan. Biasanya ketika aku ingin menyatakan perasaanku, aku tidak merasakan apa-apa bahkan biasa saja. Tapi entah mengapa kali ini sangat... sangat berbeda.
Kami duduk ditengah lapangan. ia tidak banyak protes.
“aku punya lagu untukmu, ini lagu dari penyanyi favorit kamu.” Kataku yang mebuatnya bingung. Aku mulai memetik gitarku.
“oouohhh, oouohh, oooouuaahhh ahh, oouuaaah,”
Laila tersenyum mendengar awalan ku bernyanyi. Ia sudah menebak algu apa yang akan kunyanyikan.
I always knew you were the best, the coolest girl I know
So prettier than all the rest, the star of my show
So many times I wished, You’d be the one for me
But never knew you’d get Like this, girl what you do to me
You’re who i’m thinkin of, girl you ain’t my runner up
And no matter what you’re always number one
My prize posession one and only, Adore you girl I want you
the one I can’t live without, That’s you, that’s you
You’re my special little lady, the one that makes me crazy
Of all the girls i’ve ever known, it’s you...it’s you
My favorite, my favorite, my favorite,
My favorite girl.. my favorite girl. ~Justin Bieber – Favorite Girl~

Aku menghentikan laguku, aku melihat senyum yang mengembang dari dua sudut bibirnya.
“itu kan lagunya Justin Bieber, kok kamu bisa tau aku Belieber?” tanyanya. Aku hanya tersenyum.
“iya, itu lagu dari penyanyi favorit kamu. Jelas aku tau, di laptop kamu semua gambar JB di hp kamu juga gitu, kamu selalu nanyi lagu JB, di Facebook dan twitter kamu banjir dengan tag foto JB sama retweet dari tweetnya JB.” Ucapku menjelaskan. Ia tertawa, mungkin ia merasa lucu karena aku tau semuanya.
“kamu stalking aku ya, hehe, jadi kenapa kamu pilih lagu favorite girl?” tanyanya, ini lah pertanyaan yang paling aku tunggu.
“karena kamu itu my favorite girl,” jawabku to the point. Laila langsung teriam. Raut wajahnya berubah drastis, tidak ada senyum di wajahnya.
“aku? a..aku?” tanyanya terbata. “gimana bisa? Yang aku tau kamu itu mengejar cewek-cewek cantik. Lik, aku ini gak cantik loh, feminim aja gak”
“La, aku udah ubah persepsiku yang itu, aku suka kamu La, mau gimanapun kamu.”
“hmm, sejujurnya aku juga gitu Lik, dari awal kita masuk organisasi ini, tapi yang aku lihat kamu sibuk kenalan sama teman, sibuk mau deketin ia. Ya aku woles aja sih. Dan jalanin semuanya biasa aja.”
Penjelasan Laila meyakikan ku kalau cintaku tidak akan bertepuk sebelah tangan.
“jadi...” , “tapi...” ucap kami bersamaan.
“kamu aja duluan la,”
“oh, iya. Tapi Lik, maaf aku gak bisa balas perasaan kamu sekarang. Atau nantinya kamu nembak aku buat jadi pacar kamu. Maaf aku gak bisa Lik. Walaupun aku brandal ataugayaku yang kadang menyalahi kodrat. Aku di beri amanah untuk istiqomah hingga menikah. Jadi maaf.” Jelas Laila yang berhasil membuatku membisu. Tenggorokanku rasanya tercekat.
“maaf ya Lik, tapikan kita bestfriend. Tenang aja... dimana ada MaLik pasti ada Laila. Aseeekkkk” ucapnya bercanda. Ia memukul pundakku. Aku mecoba mengembaLikan ekspresiku seperti semula.
“iya, gak masalah kok, aku bisa mengerti, yaudah mau aku anter pulang?” tanyaku. Laila berdiri dan merapikan jilbabnya.
“itu yang aku tunggu-tunggu, yuk pulang.” Ajaknya yang membuatku tertawa, tingkah polosnyalah yang membuatku yakin akan perasaanku. Dan dari Laila juga belajar untuk tidak memandang cewek hanya dari paras. Laila, Insya Allah aku akan menunggumu.
“hmm, btw. Besok-besok nyanyikan lagu yang lain ya, Justin Bieber juga.” Ucapnya pelan, aku hanya tersenyum. Kami pun berjalan menuju parkiran dan pulang.

~MaLik, semoga kau mau menungguku, (Laila)~


~SELESAI~